PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Petani di Kabupaten Ponorogo full senyum dengan hasil masa panen kali kedua tahun ini. Ini lantaran harga gabah kering naik tajam. Tengkulak berani menebus dengan harga Rp 7.000-Rp 7.200 per kilogram.
Bahkan kenaikan harga gabah kering tersebut pecah rekor dari rata-rata musim panen sebelumnya dibanderol Rp 4.500-Rp 5.000 per kilogram.
‘’Alhamdulillah gabah laku, petani nggak hanya capek tanam saja,’’ ujar Suprapto, petani asal Desa Polorejo, Babadan.
Harga gabah kering mulai merangkak naik sebulan belakangan. Kenaikan tiap pekan di kisaran Rp 500 per kilogram. Karena itu, Suprapto dan petani di desanya memilih panen lebih awal mengantisipasi harga menyusut.
‘’Harapannya harga stabil tidak anjlok seperti sebelum-belumnya,’’ katanya.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Dispertahankan) Ponorogo Masun membenarkan adanya lonjakan harga gabah pada panen raya musim kedua tahun ini.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari kualitas gabah di musim kering (MK) satu saat ini lebih baik ketimbang sebelumnya.
‘’Harga ditingkat petani sekarang tujuh ribuan, itu sudah bagus,’’ terang Masun.
Selain itu, naiknya harga gabah juga disebabkan tingginya serapan hasil panen oleh pemerintah dan perusahaan swasta. Sekaligus sebagai upaya menjaga ketahanan pangan mengantisipasi paceklik dampak El Nino.
‘’Kami prediksi akan bertahan agak lama harga tersebut,’’ ungkapnya.
Masun menambahkan, jumlah produksi padi di Ponorogo turut mengalami kenaikan. Pada semester pertama ini, Ponorogo berhasil membukukan produksi 321.200 ton dari lahan sawah daerah. Naik 2.000 ton dibanding periode sama 2022 lalu, yakni 319 ribu ton gabah.
‘’Ini memang berkorelasi juga dengan luasan tanam Ponorogo yang ada peningkatan dari 52.600 hektare menjadi 54.400 hektare,’’ paparnya. (gen/kid)
FAKTA ANGKA
Rp 7.000-7.200 harga gabah kering terbaru
Rp 4.500-5.000 harga gabah kering sebelumnya
321.200 ton produksi padi semester pertama 2023
319.000 ton produksi padi semester pertama 2022
54.400 hektare luas lahan terbaru
52.600 hektare luas lahan sebelumnya
Editor : Budhi Prasetya