JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun – Penetapan Reog Ponorogo sebagai intangible culture heritage (ICH) oleh Unesco terus disiapkan pemerintah Indonesia. Terbaru, perwakilan Pemkab Ponorogo dihadirkan dalam Gelar Karya Revolusi Mental Pagelaran Pawai Budaya Reog Ponorogo di Jakarta kemarin (24/8). Sejumlah materi dan isu-isu tentang budaya reog dijabarkan sebelum disidangkan Unesco akhir 2024 mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa sejumlah klarifikasi terhadap isu lingkungan dan perlindungan satwa dibeber dalam pertemuan tersebut.
Bulu merak misalnya, sempat dipertanyakan Unesco, dipastikan dijawab dengan adanya penangkaran merak di Ponorogo. Pun bulu diambil secara alami saat burung merak memasuki proses perontokan bulu.
‘’Pemkab Ponorogo telah memiliki peternakan merak. Setiap 3 bulan sekali bulu merak rontok, itu yang dijadikan bahan untuk Reog Ponorogo,’’ kata Muhadjir.
Baca Juga: Berkas Usulan Reog sebagai ICH Unesco Diserahkan saat Malam Puncak Grebeg Suro
Selain masalah bulu merak, lanjut Muhadjir, pemerintah juga meyakinkan Unesco terkait penggunaan kulit harimau. Pemerintah Indonesia meyakinkan bahwa bahan yang digunakan bukanlah berasal dari kulit harimau asli. Melainkan dari kulit kambing yang dimodifikasi dan dilukis menyerupai kulit asli harimau.
‘’Jadi sebetulnya berbagai macam rintangan dan beberapa tuntutan persyaratan dari Unesco sudah kami penuhi. Sekarang tinggal menunggu waiting list,’’ jelasnya.
Disinggung isu klaim reog oleh Malaysia, dia memastikan hal tersebut telah dikonfirmasi langsung ke Negeri Jiran tersebut. Dipastikan isu klaim hanya kesalahpahaman dan tidak dilakukan negara tetangga.
‘’Pemerintah Malaysia telah mengklarifikasi bahwa hal tersebut tidak benar,’’ tegasnya.
Dia menambahkan, Pawai Budaya Reog Ponorogo bakal digelar Kemenko PMK Minggu (27/8) mendatang. Di sana, 60 seniman Reog dan 10 seniman dadak merak bakal tampil di sejumlah titik di Jakarta. Selain jadi ajang promosi budaya, hal tersebut sebagai kampanye Reog Ponorogo sebagai WBTB UNESCO tahun mendatang.
Baca Juga: Resmi Dusukan Masuk Daftar ICH UNESCO, Reog Bersiap Diakui Dunia
Ketua Sedulur Warok Ponorogo Sucipto menjelaskan, masuknya Reog Ponorogo dalam waiting list Unesco ini merupakan hasil perjuangan para seniman reog, Pemkab, dan masyarakat Ponorogo beberapa tahun terakhir.
Dia meyakini, dengan ditetapkannya Reog Ponorogo sebagai WTBT nanti akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Ponorogo.
‘’Regenerasi sebagai upaya pelestarian sudah dijalankan sejak usia dini di semua jenjang sekolah. Ada juga gelar reog di Alun-alun Ponorogo setiap malam purnama, termasuk pembangunan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP),’’ ungkap Sucipto. (mia/gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya