PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Penanganan kekeringan di masa puncak kemarau disiapkan matang Pemkab Ponorogo. Sejumlah skema penanganan dirancang khusus.
Penanganan kekeringan itu mulai dropping air bersih, hingga pembangunan sumur dalam di titik kantong yang mengalami krisis air bersih.
Bupati Sugiri Sancoko mengungkapkan jika salah satu penanganan kekeringan dilakukan di Dusun Jenggring, Desa Duri, Slahung.
Kang Giri, sapaan akrab Sugiri Sancoko, menerangkan jika warga Dusun Jenggring telah mendapatkan kiriman air bersih rutin dari BPBD.
Selain itu, Kang Giri menuturkan bahwa mendasar kajian BMKG dan BPDB setempat, saat ini Bumi Reog memasuki puncak kemarau. Puncak kemarau diprediksi berlangsung beberapa pekan ke depan.
‘’Sejak awal kami siap menghadapi kemarau. Baik itu potensi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) maupun kekeringan,’’ kata Kang Giri, kepada wartawan Radar Ponorogo.
Kang Giri menambahkan, Pemkab turut menyiagakan anggaran belanja tidak terduga (BTT). Dia juga mengapresiasi relawan maupun masyarakat yang telah andil menyalurkan bantuan sosial.
‘’Seperti PMI juga melakukan bantuan air bersih ke Desa Wates, ini tentu jadi contoh yang baik,’’ bebernya.
Terkait pembangunan sumur dalam, Kang Giri memastikan upaya tersebut terus bergulir tiap tahun. Targetnya, tiap 20 hektare sawah dibangun sumur dalam.
Sehingga saat kemarau seperti ini, petani tetap dapat menanam padi guna mendongkrak produktivitas pertanian di kabupaten ini.
‘’Harapan kami tetap bisa tiga kali tanam padi dalam setahun,’’ ujarnya.
Karhutla turut menjadi konsentrasi penanganan bencana di musim kemarau. Sejak awal kemarau lalu, tren karhutla meningkat.
Kang Giri meminta warga meninggalkan cara kuno membuka lahan dengan dibakar.
‘’Jangan sampai ada lagi karhutla. Buka lahan boleh, tapi saya minta jangan dibakar karena akan merusak alam,’’ (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya