PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Cerita soal Jalan Suromenggolo atau lazim disebut Jalan Baru dimulai 2003 lalu. Saat itu era kepemimpinan Bupati Ponorogo Markum Singodimedjo.
Pembangunan Jalan Baru bertujuan mempersingkat waktu tempuh masyarakat dari Kelurahan Nologaten (utara) menuju Bangunsari (selatan).
Usai dibangun, Jalan Baru justru mendapatkan cap negatif. Mulusnya aspal justru dimanfaatkan untuk ajang balap liar saat malam hari.
Tak hanya itu, deretan warung ayu alias warung remang-remang tumbuh menjamur. Kawasan yang sempat disebut Dalan Anyar itu selalu diidentikkan dengan penjaja warung ayu.
"Sebenarnya sejak selesai dibangun itu sudah ramai yang jualan, tapi belum seramai sekarang," kata Julaida Karyawati, Lurah Nologaten yang juga bermukim di Jalan Baru.
Baca Juga: Lapak PKL Tak Tertata Rapi di Jalan Baru, Bupati : Jalan Ini Punya Umum, Jangan Seenaknya Sendiri
Atmosfer kawasan ekonomi mulai terasa sepuluh tahun berselang atau sekitar tahun 2013. Seiring berjalannya waktu, kawasan usaha mulai berdiri.
Kendati demikian sejumlah warung ayu tetap eksis. Upaya penerapan car free day (CFD) sekitar 2015 lalu di Jalan Baru belum mampu menghilangkan cap negatif yang melekat di Dalan Anyar.
"Pagi, sore, atau malam pasti ramai," ucapnya kepada wartawan Radar Ponorogo.
Keberadaan warung ayu perlahan tergerus saat pedagang kaki lima (PKL) diboyong di kawasan tersebut sekitar 2018 lalu. Bersamaan itu, rumah toko (ruko) dan perkantoran mulai berdiri berderet.
Namun aksi balap liar tetap merajalela terutama saat malam Minggu. Joki kebut-kebutan di jalanan itu meninggalkan trek Jalan baru setelah pemasangan speed bump tahun lalu.
Baca Juga: Tekan Kebut-kebutan, Jalan Baru dan HOS Dipasangi Speed Bump
"Sudah tidak ada lagi balap liar di sini," ungkapnya.
Sejak saat itulah, kawasan Jalan Baru menjelma menjadi pusat ekonomi. Sudarti, warga Jalan Menur mulai berani membuka usaha lapak bubur di tepi jalan tersebut dua tahun lalu.
Ia mengaku usaha yang dirintisnya tak pernah sepi pembeli. Buka mulai pagi, dagangannya ludes menjelang siang hari.
"Enak dagang di sini, ramai pengunjung. Sudah tidak ada lagi yang neko-neko," kata Sudarti.
Sudarti termasuk pedagang yang bertanggung jawab. Usai berjualan, dia membersihkan lokasi berjualan. Termasuk gerobaknya dibawa pulang ke rumah.
Berbeda dengan oknum pedagang lainnya yang meninggalkan lapak dagangan di tepi jalan. Pun pemandangan tak sedap itu menjamur beberapa waktu belakangan ini.
"Gerobak saya bawa pulang, pokoknya lokasi sudah saya bersihkan sebelum saya pulang," pungkasnya. (gen/kid)
JALAN BARU MASA KE MASA
2003
- Rancangan pembangunan akses baru dicetuskan
- Tujuannya mempersingkat waktu tempuh Kelurahan Nologaten-Bangunsari
- Pembangunan tuntas, akses baru dirilis dengan nama Jalan Suromenggolo
2004
- Warung ayu menjamur di sepanjang jalan yang berjuluk Dalan Anyar
- Lokasi digunakan untuk balap liar saat malam hari
2013
- Ruko mulai berdiri di tepi Jalan Baru
- Sejumlah warung ayu masih eksis, balap liar tetap merajalela
2015
- Ruko, perkantoran, dan sekolah berdiri berderet
- Lokasi digunakan CFD
2018
- Sawah di tepi Jalan Baru tergantikan ruko, perkantoran, dan lapak
- PKL diboyong ke Jalan Baru, warung ayu hilang
- Aksi balap liar tetap merajalela
2022
- Pemkab memasang speed bump
- Jalan Baru tak digunakan lagi untuk lokasi balap liar
2023
- Harga tanah di kawasan Jalan Baru semakin melambung
- Dijadikan sasaran investasi
- Lapak PKL nakal dibiarkan tertinggal di tepi jalan
- Pemkab berencana melakukan penataan ulang
Editor : Budhi Prasetya