Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Seni Gembrungan, Lantunan Syair Islami Kaya Nilai dan Pesan Moral, Tradisi Turun Temurun yang Masih Terjaga

Budhi Prasetya • Senin, 11 Desember 2023 | 03:00 WIB

LESTARI: Paguyuban Kesenian Gembrung Sholawat Khotaman Nabi Al-Iman di Desa/Kec. Siman memainkan seni gembrungan dalam setiap kegiatan keagamaan. (M ADITYA PANGESTU UNTUK JAWA POS RADAR PONOROGO)
LESTARI: Paguyuban Kesenian Gembrung Sholawat Khotaman Nabi Al-Iman di Desa/Kec. Siman memainkan seni gembrungan dalam setiap kegiatan keagamaan. (M ADITYA PANGESTU UNTUK JAWA POS RADAR PONOROGO)

Ponorogo seakan tak pernah kehabisan budaya. Gembrungan, hingga kini lestari di Bumi Reog. Paguyuban Kesenian Gembrung Sholawat Khotaman Nabi Al-Iman di Desa/Kec. Siman, Ponorogo masih mempertahankan eksistensi khazanah musik klasik bernuansa Islami itu.

----

SUARA tabuhan rebana terdengar nyaring di Musala Al-Iman, Desa/Kec. Siman, Ponorogo. Rebana itu bukan sembarang rebana, ukurannya 80 sentimeter, tubuh pemain nyaris tak tampak.

Rebana klasik itu disebut gembrung, kesenian yang memadukan alat musik tradisional seperti terbang, kentrung, maupun kendang.

Perpaduan rebana dan alat musik lainnya itu dikenal gembrungan yang biasanya dimainkan pada setiap kegiatan keagamaan.

Gembrungan dikenal di Desa/Kec. Siman sejak 1998 lalu. Kala itu, seorang alim ulama membawa kesenian tersebut untuk siar agama Islam.

Pada awalnya, tak satupun masyarakat mampu memainkan kesenian yang konon diciptakan Sunan Kalijaga itu.

Baca Juga: Masyarakat Adat Demang Surowidjojo Jaga Tradisi Keduk Beji Tetap Lestari 

"Sampai ada warga desa sini (Siman) yang tinggal di Desa Kaibon, Madiun, mengajak untuk latihan bareng,’’ kata Ketua Paguyuban Kesenian Gembrung Sholawat Khotaman Nabi Al-Iman, Sukarmin.

Gembrungan akhirnya mengakar kuat dan mendapat tempat di masyarakat. Kesenian dengan lantunan khas syair Islam yang kaya nilai dan pesan moral terus dirawat.

Hingga akhirnya berdirilah Paguyuban Kesenian Gembrung Sholawat Khotaman Nabi Al-Iman. Pemain dan pelantun syair berirama Jawa itu mayoritas jamaah musala setempat yang telah berusia lanjut.

"Saat ini sudah masuk generasi ketiga, mayoritas pemainnya sudah tua-tua, harapan kami bisa tetap dilanjutkan ke anak-anak,’’ ujarnya.

Baca Juga: Tradisi Sebar Uang Koin dan Gunungan Jajan saat Maulid Nabi Muhammad SAW Tak Lekang oleh Zaman

Memainkan gembrung susah-susah gampang. Selain tempo musik cepat, syair Islam tak bisa dilantunkan asal-asalan.

Isi syair menceritakan perjalanan nabi, rasul, hingga turun-temurunnya Quran. Seni ini dimainkan 13 orang, dua pemain terbang babok (rebana besar), dua kemprung, dua tipung, dua kompang )rebana kecil), kecer, tengtung dan 3 dalang.

"Tidak perlu doa khusus dalam mainkan gembrung, cukup diawali dengan doa bersama dan ditutup juga dengan doa bersama-sama,’’ jelasnya. *** (adit-magang-IAIN/gen/kid)

Editor : Budhi Prasetya
#Sholawat #Gembrungan #rebana #ponorogo