PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Penerapan one way atau satu jalur di jalan lingkar Telaga Ngebel belum sepenuhnya dipatuhi pengunjung.
Buktinya, masih ada pengunjung yang ngeyel alias nekat melawan arus di jalan lingkar Telaga Ngebel. Dampaknya, arus lalu lintas (lalin) padat merayap.
Apalagi, kondisi wisata Telaga Ngebel pada momen libur Natal dan tahun baru seperti saat ini tengah ramai pengunjung. Kondisi itu terlihat jelas, Minggu (25/12) kemarin.
Kondisi tersebut tentu mengganggu kenyaman dan keamanan wisatawan. Terlebih, jalan lingkar Telaga Ngebel terbilang sempit.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengamini sempitnya akses lingkar telaga.
Terlebih di beberapa titik semakin sempit lantaran longsor yang mengikis tepian jalan selebar empat meter tersebut.
Pelebaran jalan mustahil dilakukan mengingat jalan lingkar berada di tepi tebing perbukitan serta telaga.
"Kami coba akan duduk bersama bahas masalah ini, jangan sampai ada wisatawan yang nyemplung telaga,’’ kata Judha.
Salah satu opsinya, lanjut Judha, yakni pemasangan guardrail di sepanjang jalan lingkar telaga.
Pengaman tersebut sebagai langkah antisipasi menahan kendaraan wisatawan tatkala terlibat kecelakaan.
Pun mencegah tercebur ke telaga seperti insiden tahun lalu.
"Saat ini Dishub (Dinas Perhubungan) sedang melakukan pemasangan pembatas di sisi utara dan selatan,’’ jelasnya
Pemasangan guardrail dinilai mendesak. Dari total jalan lingkar telaga sepanjang lima kilometer, diperkirakan sekitar 30 persen belum dilengkapi guardrail. Kondisi itu cukup membuat wisatawan was-was.
"Sebenarnya sudah cukup banyak, khususnya di titik-titik rawan seperti tanjakan dan tikungan. Tapi kami dorong semua lingkaran telaga itu terpasang pengaman jalan,’’ tegasnya.
Pihaknya bakal berkoordinasi dengan Dishub setempat terkait pemasangan guardrail tersebut.
Pun pihaknya turut mendorong adanya penambahan pemasangan guardrail pada 2024 mendatang.
"Telaga Ngebel ini ditangani lintas OPD (organisasi perangkat daerah), jadi dibutuhkan kerja sama semuanya,’’ bebernya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya