Oleh: Ahmad Munir
ADA analogi yang masyhur tentang keadaan orang berpuasa. Yakni, aroma mulutnya seperti aroma minyak kasturi.
Analogi tersebut masyhur karena dipopulerkan oleh hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Redaksi hadits diawali dengan sumpah dengan Dzat Allah, yang menjelaskan bahwa bau mulut orang puasa, di hadapan Allah dianggap lebih harum dibanding dengan aroma minyak kasturi.
Minyak kasturi, minyak kesayangan Rasulullah SAW karena warnanya yang bening, aromanya yang harum, tapi tidak menyengat dan tahan lama.
Redaksi hadits tersebut tidak diawali dengan prolog dan pertanyaan.
Dalam konteks ini bisa diasumsikan bahwa pitutur tersebut muncul untuk menegaskan anggapan yang lazim dan umum, bahwa bau mulut orang puasa khususnya pada siang hari kurang sedap.
Muatan pitutur hadits, tidak dapat dibandingkan dengan pitutur manusia biasa, meskipun memiliki kesamaan diksi.
Baca Juga: Maidi Jamin Stok Sembako di Kota Madiun Aman, Warga Tak Perlu Khawatir
Pitutur hadits mengandung pesan moral dan spiritual di balik kelaziman logika umum manusia.
Akal sehat tidak mengingkari bahwa bau mulut orang puasa adalah kurang sedap.
Lalu pesan apa yang ingin disampaikan oleh tuturan hadits tersebut?
Tuturan hadits tersebut menguatkan kesabaran manusia dalam menjalani puasa yang secara lahiriah dirasa berat oleh manusia.
Di saat perut lapar dan dahaga, cuaca panas, badan lesu dan lemah, makanan dan minuman akan menggoda orang puasa.
Untuk menahan godaan tersebut, Allah memberikan sugesti bahwa bau mulut yang kurang sedap, dianggap lebih harum dari minyak kasturi.
Apalagi jika yang dilakukan oleh orang yang berpuasa itu sesuatu kebajikan yang memberi kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan bagi orang lain.
Mari kita berkolaborasi dalam beramal kebajikan di Bulan Ramadan. (bar/prog)
Editor : Mizan Ahsani