PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Fenomena war takjil yang sempat ramai di media sosial (medsos) tak sepenuhnya mempengaruhi remaja Desa Wotan, Pulung, Ponorogo.
Buktinya mereka tidak latah ikut-ikutan berburu ataupun membuat konten war takjil di medsos mereka.
Remaja di Desa Wotan, Pulung, Ponorogo, memiliki cara tersendiri untuk ngabuburit. Yakni berlatih menjadi dalang ataupun pengrawit.
Baca Juga: Penumpukan Kendaraan di Jalan HOS Cokroaminoto, Dishub: Gegara Bagi-Bagi Takjil Tiga Titik
Ngabuburit asik sembari uri-uri budaya Jawa itu dimotori oleh Muhammad Irsyad Pandu Putra Susilo.
Itu dilakukan agar para remaja di desanya memiliki kegiatan bermakna daripada sekedar hangout, bermain petasan, ataupun ngebuburit layaknya remaja lainnya.
Bersama sejumlah pemuda di desanya, Muhammad Irsyad Pandu Putra Susilo, menggagas ngabuburit asik itutersebut.
Baca Juga: Viral Muslim dan Nonis War Takjil di Medsos, Maidi Bilang Begini
Mereka sibuk menyiapkan wayang kulit berikut peranti pendukungnya sejak pukul 14.00 WIB. Termasuk, diantaranya menyiapkan lakon atau cerita.
"Biasanya memang mendalang, tapi karena puasa tidak ada job. Jadi ajak teman-teman bermain wayang sambil menunggu buka puasa,’’ kata dia.
Remaja 16 tahun itu mengatakan, aktivitas uri-uri budaya dengan rekan sebayanya itu dilakoninya sejak awal ramadan lalu.
Saban sore mereka berkumpul di rumahnya yang sekaligus dijadikan sanggar seni. Awalnya, hanya satu dua yang ikut, kini sanggar seninya berjubel saat ngabuburit.
"Senang karena banyak temannya, tidak terasa kalau puasa juga,’’ ujarnya.
Reza Agil Paradi, rekan Pandu, mengaku bahwa baru kali pertama bermain wayang.
Meski awalnya kikuk, pun asing dengan tokoh dan cerita dunia wayang, lambat laun dia menikmatinya.
Tak sekedar memainkan lakon wayang kulit, dia juga mempelajari seni karawitan.
"Dulu tidak minat dengan wayang. Tapi karena diajak dan temannya banyak, akhirnya ketagihan,’’ kata Reza.
Reza mengaku tak mudah memainkan wayang. Selain bobot wayang berbahan kulit hewan ternak itu lumayan berat, dia harus menghafal satu-persatu tokoh serta cerita wayang.
"Baru pertama memegang wayang,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya