PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Persoalan balon udara di Ponorogo selama ini kerap menuai pro dan kontra.
Bahkan polemik tersebut sudah terjadi menahun. Pihak kepolisian sejatinya telah lama melarang penerbangan balon udara.
Pasalnya, keberadaan balon udara tersebut dinilai membahayakan atau mengganggu keselamatan penerbangan.
Pun,juga dikhawatirkan bisa memicu peristiwa kebakaran hutan dan lahan serta rumah warga.
Namun, sebagian warga menganggap bahwa penerbangan balon udara, khususnya saat perayaan Idul Fitri adalah sebuah tradisi.
Peristiwa mercon balon udara meledak sebelum berhasil mengudara di Dusun Tengah, Desa Muneng, Balong, Ponorogo, Senin pagi (13/5), pun mendapat tanggapan kalangan akademisi.
Menurut mereka, balon udara tidak layak masuk dalam daftar tradisi saat hari raya Idul Fitri. Lantaran perkembangannya dinilai semakin ekstrem.
Pun, dampak kerugian yang ditimbulkan dari balon udara di era saat ini juga semakin meresahkan.
Wakil Rektor III INSURI Ponorogo Murdianto mengamati perkembangan balon udara berubah drastis dalam kurun 20 tahun terakhir.
Dari hanya berukuran kecil berbahan kertas, kini balon udara jor-joran (bersaing) ukuran raksasa serta aksesoris mercon.
“Dulu balon itu tidak ada merconnya, perkembangan kreativitas ini semakin di luar kontrol,’’ jelas Murdianto.
Murdianto menegaskan klaim balon udara sebagai tradisi mengakar di Ponorogo patut dipertanyakan. Menurutnya, hingga kini nihil literatur yang menguatkan klaim tersebut.
Adapun klaim tradisi balon udara yang beredar di media sosial (medsos) hanyalah persepsi belaka, tanpa ada landasan ilmiah.
“Dan setahu saya, menyalakan mercon saat hari raya tidak hanya di Ponorogo saja. Jadi stop mengatakan bahwa balon udara adalah tradisi, kami belum menemukan literatur yang merujuk hal itu,’’ ungkapnya.
Murdianto menyarankan kebiasaan yang mengandung risiko besar itu disalurkan dalam berbagai hal positif.
Misalnya, menggelar festival balon udara dengan awak. Pun dibahas bersama budayawan, pemerintah, TNI-Polri.
Sehingga menjadi agenda rutin, bahkan berpotensi menjadi destinasi wisata.
“Festival balon (dengan awak, Red) itu sebenarnya bagus, tapi kurang membumi. Jadi harus ada kajian apa yang pas menyalurkan kreativitas masyarakat yang tidak berbahaya,’’ tegasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya