PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Pemkab Ponorogo menyiapkan ratusan juru sembelih halal (Juleha) alias tukang jagal.
Mereka mengikuti pelatihan sertifikasi yang digelar di Pendapa Pemkab Ponorogo, Kamis (24/5).
Sedikitnya 200 Juleha Kabupaten Ponorogo dibekali tata cara menyembelih hewan kurban sesuai syariat Islam.
Kegiata menjelang hari raya Idul Adha itu digelar bersama dengan DPW Julehan Jatim.
Ketua DPW Juru Sembelih Halal (Juleha) Jatim Imam Fauzi mengatakan, merujuk hasil penelitian 2019 lalu, sebanyak 80 persen proses penyembelihan dilakukan tidak halal di Jawa Timur.
Mulai tidak terpotong sempurna, sekedar tergores hingga hanya terluka. Hal tersebut dipicu, tuntutan para pengusaha yang memaksa para tukang jagal menyembelih ribuan ekor saban hari.
"Jadi banyak yang buru-buru motongnya, dan jatuhnya tidak halal,’’ kata Imam.
Imam menegaskan halal tak sekadar status, melainkan jadi salah satu syarat utama makanan layak dikonsumsi.
Adapun tata cara penyembelihan sesuai syariat terdiri dari tiga bagian. Yakni, terpotong pada tenggorokan, jalan nafas, serta dua jalur vena.
‘’Hari ini kami kumpulkan 200 tukang jagal, kami latih dan sertifikasi agar menjadi Juleha,’’ ujarnya sembari menyebut baru ada tujuh juleha yang bersertifikat 2023 lalu.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menambahkan, selain memastikan seluruh jagal dapat menyembelih sesuai syariat, harapannya para Juleha nanti aktif saat Idul Adha.
Mereka jadi aktor utama dalam menyembelih kurban. Selain itu, menjadi juru sosialisasi pentingnya menyembelih sesuai syariat.
‘’Jangan sampai memakan makanan yang tidak halal, nanti dalam tubuh mengalir darah dan daging haram, jatuhnya pikiran jadi negatif terus,’’ ujar Kang Giri, sapaan bupati. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya