PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Pesona Reog Ponorogo tak henti-hentinya menarik perhatian negara lain.
Termasuk juga Malaysia, yang menjadi tetangga Indonesia di Asia Tenggara. Mereka beberapa kali melirik Reog Ponorogo.
Mereka terpesona dan kagum dengan kesenian tradisional asli Kabupaten Ponorogo tersebut.
Bahkan sejumlah delegasi beberapa kali berkunjung ke Bumi Reog.Namun, kedatangan mereka tentu saja bukan untuk mengklaim kepemilikan reog.
Mereka sadar, saat ini Pemkab Ponorogo telah berupaya agar reog diakui dunia sebagai warisan tak benda dari Ponorogo.
Pejabat Distrik Batu Pahat bertolak ke Ponorogo untuk mempelajari reog akhir pekan kemarin. Selama dua hari (25-26/5), pejabat negera tetangga itu diajak bekeliling di Bumi Reog.
Tidak terkecuali melihat langsung proses pembangunan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) di Sampung.
Pejabat dari Malaysia tersebut didampingi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo berkesempatan singgah ke beberapa lokasi.
Diantaranya di sanggar Kawulo Bantarangin, hingga akhirnya ke lokasi MRMP. Mereka seperti takjub melihat kebesaran reog di tanah kelahirannya.
Bahkan, mereka bermaksud memboyong instruktur reog ke Malaysia. Tentu saja bukan untuk memiliki.
"Tujuan mereka ingin mengenal reog sekaligus ingin mengembangkan di sana,’’ kata Kepala Disbudparpora Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi
Distrik Batu Pahat, Malaysia, memang memiliki keterkaitan dengan Ponorogo. Banyak warga kabupaten ini yang menetap dan tinggal di sana.
Sejarah mencatat, warga Ponorogo turut memperkenalkan reog di Distrik Batu Pahat sejak 1901 silam.
Sosok seniman tersebut diketahui bernama Saikun Kentus hingga akhirnya reog dikenal dan berkembang di Negeri Jiran.
"Ada juga namanya Haji Miskun Karim, seniman reog di sana (Distrik Batu Pahat),’’ jelasnya.
Tak hanya ditunjukkan kebesaran reog, Disbudparpora turut membeber progres pelabelan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Unesco.
Pihaknya turut meminta dukungan dukungan dari pejabat Negeri Jiran tersebut. Sehingga persoalan pelik saling klaim tak lagi terjadi di kemudian hari.
"Malaysia dan Indonesia itu saudara, jadi punya tanggung jawab bersama dalam melestarikan reog juga,’’ tambahnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya