PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Mendapatkan Liquified Petroleum Gas (LPG) tiga kilogram alias gas melon di Kabupaten Ponorogo susah-susah gampang.
Warga di sebagian wilayah Kabupaten Ponorogo mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut.
Kalaupun ada, harganya kelewat mahal. Seperti yang diutarakan oleh Supriyoko, pedagang gorengan di Jalan Pramuka, Kabupaten Ponorogo.
Ia mengaku kesulitan mendapatkan gas melon sejak dua pekan belakangan. Bahkan dia harus menunggu 2-3 hari untuk mendapat jatah.
Pun, harga yang dibanderol untuk satu tabung gas melon mencapai Rp 19 ribu – Rp 21 ribu. Padahal normalnya Rp 18 ribu – Rp 19 ribu.
"Harus pindah-pindah warung kalau mau beli. Sampai libur jualan karena gas habis,’’ kata Supriyoko.
Selain di sebagian wilayah kota, kondisi serupa juga terjadi di wilayah pinggiran. Seperti Kecamatan Slahung maupun Kecamatan Ngrayun.
Sebagian warga di dua kecamatan tersebut mulai merasakan kesulitan mendapatkan gas melon dua pekan belakangan.
Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakum) Ponorogo mengungkapkan telah mengetahui fakta soal gas melon tersebut.
Dari hasil penelusuran, kelangkaan gas melon yang terjadi di sebagian wilayah itu diduga akibat dari berkurangnya jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) Ponorogo.
Dari semula ada dua, kini hanya tersisa satu yang beroperasi. Satu SPBE di wilayah selatan terpaksa tutup imbas terkendala perizinan sejak bulan April lalu.
“SPBE ini sedang mengurus perpanjangan izin, sementara tidak bisa beroperasi,’’ kata Kabid Perdagangan Disperdakum Ponorogo Paras Paravirodhena.
Lantas sampai kapan kelangkaan gas melon di sebagian wilayah bakal terus terjadi? Paras menegaskan bahwa kelangkaan teratasi seiring dibukanya kembali SPBE di wilayah selatan.
Adapun proses perpanjangan izin dilakukan langsung oleh pengusaha. Pihaknya berharap pengusaha segera merampungkan perpanjangan izin dalam waktu dekat.
"Semoga bisa segera turun izinnya dan bisa kembali normal,’’ ujarnya.
Paras mengklaim sejatinya Pertamina dan Pemkab setempat telah melakukan upaya antisipasi kelangkaan di sebagian wilayah.
Distribusi gas melon ke wilayah terdampak di-cover wilayah tetangga, seperti Madiun, Ngawi, hingga Magetan.
Namun upaya tersebut nyatanya belum mampu menjawab kebutuhan warga. Distribusi membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya lantaran perbedaan jarak.
"Secara kuota tidak berkurang, hanya terjadi keterlambatan kedatangan yang biasanya pagi sekarang malam karena antre juga di SPBE,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya