PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Munculnya nama-nama baru dalam bursa Pilkada Ponorogo dinilai sebagai tanda positif.
Meski pendatang baru bakal calon bupati (bacabup) dan bakal calon wakil bupati (bacawabup) Pilkada Ponorogo itu kerap dilabeli numpang lewat alias aji mumpung.
Bahkan tidak sedikit yang memandang bacabup dan bacawabup pendatang baru dalam gelaran pilkada hanya sedang cari perhatian (caper).
Baca Juga: DPRD Ponorogo Soroti Pelaksanaan Grebeg Suro, Dinilai Stagnan dan Minim Persiapan
Namun, ada juga nama-nama baru itu yang memang berniat benar-benar bakal serius ikut kontestasi meski belum memiliki populalaritas dan elektabilitas yang cukup.
Munculnya nama dan wajah baru jelang pilkada itu dinilai pengamat politik di Kabupaten Ponorogo sebagai hal yang wajar. Bahkan, menurut mereka itu diperlukan.
"Menandakan bahwa menjadi calon bupati di Ponorogo itu masih banyak yang berminat,’’ kata Ikhwanudin Alfianto, pengamat politik.
Ikhwanudin menyebut selain bupati petahana Sugiri Sancoko dan rivalnya Ipong Muchlissoni, deretan wajah baru bermunculan belakangan.
Seperti Kades Purworejo Didik Subagiyo (MDS), Segoro Luhur Kusumo Daru, Ibnu Alfandy Yusuf. Ketiganya memang tercatat berdomisili di Bumi Reog.
Menariknya, gelaran Pilkada Ponorog juga mengundang minat bos sekaligus peternak sapi Bogor Muhammad Harun Ar Rasyid (MHR) untuk ikut meramaikan kontestasi.
"Tentu ini baik untuk iklim pesta demokrasi,’’ ujarnya.
Baca Juga: Antipasi Terlibat Judi Online, Polres Ponorogo Periksa Handphone Anggota saat Apel Pagi, Hasilnya...
Soal peluang pendatang baru, Ikhwanudin mengungkap jika mereka harus melakoni perjuangan berat meraih simpati dan dukungan masyarakat.
Maklum, wajah lama tentu lebih dulu dikenal warga Ponorogo. Tak ayal, pendatang baru harus lebih getol mengenalkan diri hingga ke masyarakat di tingkat akar rumput.
Upaya itu tentu membutuhkan modal besar. Selain tenaga dan pikuran, tentu saja dukungan logistik yang cukup.
Anggaran yang dibutuhkan saat proses sosialisasi hingga kampanye nanti tidaklah sedikit.
"Sekitar empat bulan menuju Pilkada, tentu tidak bisa instan dalam mengenalkan calon ke masyarakat,’’ jelasnya.
Baca Juga: Bupati Ponorogo Kesal Oknum Pedagang Getok Harga di Grebeg Suro, Sugiri: Tidak Boleh Ngemplang!
Ikhwanudin membeber contoh kedatangan Ipong sebagai wajah baru pada Pilkada 2016 lalu.
Kendati penantang baru, lantas Ipong tidak ujug-ujug say halo mengenalkan diri beberapa bulan jelang Pilkada.
Relawan dan mesin partai pendukungnya telah mengenalkan Ipong ke publik jauh-jauh hari bahkan setahun sebelum pelaksanaan tahapan pilkada.
"Lihat kondisinya lebih menguntungkan wajah lama, seperti Pak Sugiri atau Pak Ipong yang sudah lebih dulu dikenal warga,’’ ungkapnya.
Namun, Ikhwanudin menggarisbawahi jika wajah baru masih punya peluang memenangi kontestasi.
Baca Juga: Jangan Sembarang Merokok di Delapan Tempat Ini, Perda KTR Usulan Pemkab Ponorogo Disetujui DPRD
Mitos satu periode yang dikenal di Ponorogo menandakan karakter sosial masyarakat yang suka mencoba hal baru, termasuk dalam memilih pemimpin.
Tidak heran jika selama pemberlakukan sistem pemilihan langsung dalam pilkada, bupati terpilih selama ini hanya bertahan dalam satu kali, belum ada petahana yang berhasil dua periode.
Hal itu setidaknya membuka kemungkinan wajah baru memiliki peluang bersaing dengan wajah lama.
"Ini karena karakter masyarakat Ponorogo, bukan karena mitos bupati yang tidak terpilih lagi secara berturut-turut,’’ ujarnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya