PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Nama Adipati Ponorogo ke X (dulu masih bernama Kota Lama) mungkin baru diketahui publik.
Itu setelah kabar soal kondisi makam Adipati Ponorogo ke X Raden Tumenggung Surabrata yang rusak diduga akibat ulah tangan jahil mencuat ke pemberitaan.
Sejarawan Ponorogo mendesak pemerintah memperhatikan dan merawat makam-makam bupati di kompleks pemakaman Gedhong Sanga itu.
Gedhong Sanga itu adalah komplek makam Batoro Katong di Kelurahan Setono, Jenangan, Ponorogo.
Dari sembilan gedhong atau cungkup, hanya tujuh yang terlihat baik. Bahkan empat cungkup di antaranya terawat.
"Saran untuk pemerintah, ya mbok diperhatikan makam-makam bupati yang ada di Gedhong Sanga karena banyak makam yang sudah hancur,’’ kata jelas M. Masrofiqi M, sejarawan Ponorogo.
Raden Tumenggung (RT) Surabrata, diceritakan memiliki andil besar bagi Bumi Reog pada masanya.
Ia merupakan putra RT Mertawangsa II, Adipati Ponorogo sebelumnya. Kendati belum ada sejarah yang mencatat kapan dilahirkan, nama RT Surabrata cukup diperhitungkan pada masa Mataram.
M. Masrofiqi M membeberkan, secara politis, RT Surabrata membawahi kabupaten-kabupaten yang berada dalam wilayah Mancanegara Wetan (Eks Karesidenan Madiun dan Kediri).
Di mana sebelumnya wilayah ini di bawah Bupati Pesisir (Onderhoorig Strandregenten). RT Surabrata yang menginisiasi terbentuknya Mancanegara Wetan.
"Akhirnya ditunjuklah sebagai pemimpin dari wilayah itu dan memiliki 12 ribu pasukan,’’ ungkapnya.
"Membawahi 12 ribu pasukan, yang pada masa itu terbilang besar,’’ imbuh Rofi, sapaan akrabnya.
Dari segi kesejahteraan, RT Surabrata mampu menggerakkan roda perekonomian dengan bijak dan cerdas.
Tiap tahun Ponorogo mampu memasok kebutuhan berupa benang katung, kacang, kacang hijau, kayu secang dan kulit kerbau sebesar 137 koyan atau coyang (1 coyang 27-30 pikul, per pikul 62 kilogram).
"Sementara wilayah sekitar yakni seperti Jagaraga itu 12 koyan, Caruban 5 koyan, Magetan 7 koyan, dan Madiun 54 koyan,’’ terang lulusan IAIN Tulungagung itu.
RT Surabrata turut memainkan peran politik saat dinasti Mataram mengalami krisis.
Baca Juga: Emil Dardak Sinergikan IMM dengan Program Pro Rakyat Demi Majukan Jatim
Tercatat pernah berganti-ganti aliansi serta beragam cara lainnya. Hal ini tak lain merupakan strategi politik dari RT Surabrata untuk menyelamatkan wilayah kekuasaannya.
Saat Geger Kapugeran, memihak Pangeran Puger. Dimasa itulah RT Surabrata menggantikan ayahnya RT Mertawangsa II, saat Pangeran Puger naik takhta bergelar Pakubuwana I.
Pada tahun 1719 negosiasi juga dilakukan untuk membantu aliansi VOC-Kartasura. Namun, itu tak berlangsung lama.
Pada awal tahun 1720 RT Surabrata sempat tercatat bergabung dengan pangeran pemberontak yakni pangeran Purbaya dan pangeran Balitar.
Rofi menambahkan, RT Surabrata konon dikabarkan berjasa menumpas sisa-sisa pemberontakan Untung Surapati dengan menangkap Mas Brahim (cucu Surapati).
"RT Surabrata tercatat sebagai bupati terkaya di masanya. Buktinya, saat keraton meminta bantuan dikasih sepasang Kebo Bule (kerbau berwana putih, Red) dan satu kereta,’’ bebernya.
Belum diketahui secara pasti kapan dan bagaimana RT Surabrata wafat. Rofi menyebut berdasarkan catatan Poensen, RT Surabrata pernah ditusuk Pangeran Mangkunegara.
"Menurut silsilah Gondoloyo dan tulisan Pêntjaripun Sêdjarah Kusuma Tjitra I Sumarata, RT Surabrata memiliki tiga putra, yaitu R.Ad. Surahadiningrat I, Bupati Kota Lama Ponorogo ke II, RT. Martadiningrat, Srengat, dan R. Darmawangsa, Wedana Prajurit,’’ ungkapnya (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya