PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Peringatan hari jadi Ponorogo ke-528 sudah dilaksanakan hari Minggu tanggal 11 Agustus lalu.
Itu ditandai dengan acara potong tumpeng dan tasyakuran oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko bersama jajaran Forkopimda.
Namun, puncak acara perayaan hari jadi Ponorogo masih akan digelar tanggal 21 Agustus mendatang.
Sampai saat ini, pemkab terus mematangkan persiapan Festival bertajuk Serenade Langit Tembaga yang acara jadi pamungkas peringatan.
Menurut rencana, festival tersebut bakal dimeriahkan dengan gelaran pesta budaya, musik, dan seni pertunjukan.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan, festival itu menjadi puncak perayaan hari jadi Ponorogo ke-528.
Nantinya, seni reog obyok, jaranan hingga gajah-gajahan bakal ditampilkan di Alun-alun.
Seni pertunjukan itu berpadu dengan musik, sesuai tajuk festival, acara dimulai sore hari.
"Kami ingin hadirkan kolaborasi, musik dan seni budaya di sore hari, sambil memandang sunset yang perlahan-lahan kembali ke peraduannya,’’ kata Kang Giri, sapaan bupati.
Kang Giri berharap gelaran tersebut menjadi daya tarik festival baru di Ponorogo.
Selain, event Grebeg Suro, serta Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP), festival diharapkan menjadi agenda tahunan.
Pun, menambah sarana wisata bagi pelancong yang berkunjung ke Bumi Reog.
"Kami ingin membuat acara seheboh mungkin. Tapi tetap teduh, dengan nuansa yang dalam,’’ jelasnya.
Selain Serenade Langit Tembaga, Kang Giri berencana menutup perayaan hari jadi Ponorogo dengan haul Batoro Katong.
Mencari waktu yang pas, dia berencana menggelar ziarah makam di kompleks makam utama bupati pertama Ponorogo itu.
Bentuk penghormatan, sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap sejarah dan para leluhur kabupaten ini.
"Memang agak berubah dari agenda awal, karena persiapannya agak mepet,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya