PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Pelaksanaan Pilkada Ponorogo tahun 2024 ini kemungkinan besar akan diikuti dua pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati.
Sejauh ini, hanya duet petahana Sugiri Sancoko-Lisdyarita dan Ipong Muchlissoni-Segoro Luhur Kusumo Daru yang sudah mengantongi rekom dari parpol peraih kursi legislatif.
Empat parpol, yakni Partai Demokrat, Golkar, PKS dan PKB resmi mendukung Sugiri-Lisdyarita.
Sementara Partai Gerindra, Nasdem dan PAN memberikan rekomendasi kepada duet Ipong-Segoro luhur.
Baca Juga: Pengawasan Pilkada Ponorogo 2024, Bawaslu Beri Atensi Khusus Potensi Politik Uang
Hingga tujuh hari tersisa menjelang pendaftaran paslon ke KPU Ponorogo, kekuatan koalisi parpol pendukung keduanya masih seimbang.
Pasalnya, sampai saat ini, PDIP yang meraih tujuh kursi DPRD Ponorogo hasil pileg bulan Februari lalu masih belum menentukan sikap secara resmi.
Itu ditandai dengan belum mengeluarkan surat rekomendasi, baik kepada Ipong maupun Sugiri dan Lisdyarita yang notabene adalah kadernya sendiri.
Baca Juga: Pendukung Ipong-Segoro Luhur Optimis Bisa Mengulang Kemenangan Pilkada 2015, Segera Rilis Koalisi
Kondisi itu jelas memunculkan pertanyaan di benak sejumlah kalangan. Kemana arah dukungan PDIP di pilkada mendatang?
Imam Fauzi Surahmat, pengamat politik, mengatakan fenomena PDIP yang menahan surat rekomendasi bagi kader-kadernya jamak terjadi di beberapa daerah.
Bahkan, dalam penyerahan surat model B.Persetujuan.Parpol.KWK PDIP beberapa waktu lalu, hanya empat daerah di Jawa Timur yang mendapatkan rekomendasi.
Yakni, Trenggalek, Surabaya, Ngawi, serta Sumenep.Sementara sebelumnya, Sugiri Sancoko hanya mendapat surat tugas untuk Pilkada Ponorogo.
Itu pun tanpa tertera nama Lisdyarita. Tak heran, sempat memunculkan beragam spekulasi yang mengiringi terbitnya surat tugas tersebut.
"Fenomena ini juga dirasakan di Ponorogo, yang sampai saat ini belum diturunkan surat rekomnya, bahkan ke kader sendiri (Sugiri, Red),’’ kata Koordinator LSI Denny JA Jawa Timur-Bali itu.
Dia menilai PDIP punya banyak pertimbangan dalam menentukan rekomendasi. Terkesan lebih hati-hati, meskipun kepada kader sendiri.
Baca Juga: Demokrat Berlabuh ke Petahana, Sugiri Terima Rekom dari AHY untuk Pilkada Ponorogo 2024
Namun, dia memberikan catatan khususnya rekom kepada kader anorganik atau bukan lahir asli dari PDIP.
Pun, tidak menutup kemungkinan adanya pro kontra di internal partai.
"PDIP kami rasa sangat hati-hati, melihat merah putih kadernya. Kalau tidak punya bargaining position utama, PDIP akan hati-hati,’’ ungkapnya.
Imam berpandangan kehati-hatian PDIP sebagai bentuk antisipasi kader mereka ganti seragam alias loncat partai lain.
Wabil khusus Sugiri-Lisdyarita punya rekam jejak tersebut. Sugiri dulunya politisi Demokrat, Lisdyarita sebelumnya Perindo.
Keduanya resmi mengenakan baru seragam PDIP dan menjadi kader parpol berlogo kepala banteng bermoncong putih itu saat Pilkada 2020 lalu.
"Di sisi lain, kalau PDIP hanya menjadi pelengkap tentu tidak akan menarik,’’ tegasnya.
Parpol hanya kendaraan. Menurutnya, figur menjadi kunci dalam kontestasi. Bahkan penilaiannya sosok tersebut menjadi kunci kemenangan di Ponorogo.
Baca Juga: Rutan Ponorogo Overload, Masih Menerima Napi Layaran, Penghuni Hampir Tiga Kali Lipat Kapasitas
Tidak pandang parpolnya apa, nilai ketokohan menjadi modal besar mengeruk suara kemenangan di akar rumput.
"Kami survei di Ponorogo itu hasilnya ketokohan lebih utama ketimbang partainya apa. Berbeda dengan Pacitan yang pasti Demokrat, atau Blitar yang pasti PDIP,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya