PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Rivalitas politik antara Sugiri Sancoko dengan Ipong Muchlissoni kembali berpeluang terjadi dalam Pilkada Ponorogo 2024.
Kedua politikus itu kembali bakal berebut dukungan warga Ponorogo dalam Pilkada mendatang.
Baik Ipong dan Sugiri sama-sama mengantongi pengalaman pernah memenangi pilkada. Tak heran jika kontestasi kali ini diprediksi bakal berlangsung seru.
Pun, menilik catatan head to head rivalitas politik Ipong dan Sugiri, keduanya pernah saling mengalahkan.
Baca Juga: Info dari Pusat, Tenaga Honorer Harus Pikir-Pikir Sebelum Daftar Rekrutmen CPNS, Ini Alasannya
Tidak heran jika pilkada kali ini menjadi derby klasik bagi petahana dan mantan bupati itu. Pengamat politik turut tertarik dengan kontestasi tahun ini.
Koordinator LSI Denny JA Jawa Timur-Bali Imam Fauzi Surahmat, mengungkapkan, itungan-itungan elektabilitas sempat dilakukan sejumlah lembaga survei beberapa waktu.
Termasuk LSI Denny JA Jawa Timur-Bali. Hasilnya, elektabilitas Sugiri Sancoko lebih unggul ketimbang nama-nama calon kepala daerah (cakada) yang masuk bursa belakangan.
Baca Juga: PDIP Belum Terdengar Keluarkan Rekom di Pilkada Ponorogo, Pengamat Politik Bilang Begini
Bahkan selisih lebih dari 40 persen ketimbang Ipong Muchlissoni yang berada di posisi kedua.
"Kami berbicara data hasil survei, bukan karena ada kecenderungan ke satu pihak. Tapi dari data itu kami melihat ada selisih cukup jauh dalam elektabilitas di masyarakat,’’ kata Imam.
Imam menambahkan, besar kemungkinan petahana bakal unggul. Hanya 15 persen masyarakat Ponorogo yang percaya mitos bupati gagal di periode kedua.
Baca Juga: Pilkada Ponorogo 2024, Cak Imin Serahkan Rekom ke Sugiri-Lisdyarita, Ini Alasan PKB Dukung Petahana
"Kalaupun 15 persen ini ditambahkan dengan elektabilitas, hasilnya belum mampu mengungguli suara petahana,’’ lanjutnya.
Namun, itu masih sebatas prediksi. Kondisinya bisa berubah sebaliknya. Dirinya menyebut sejumlah faktor bisa mempengaruhi hal itu.
Salah satunya adalah faktor yang disebutnya sebagai "tsunami politik". Menurut Imam, hal itu mampu menggoyangkan elektabilitas, bahkan hingga merosot.
Jika terjadi, Ipong berpeluang besar memenangkan kontestasi kali ini.
"Bila tidak ada ‘tsunami politik’, momentum membalik keadaan kami rasa sulit, kalau melihat data survei kami,’’ jelasnya.
Disinggung kekuatan partai Gerindra dalam menggoyang suara Pilkada, Imam mengamini saat ini posisi partai presiden terpilih Prabowo Subianto itu menjadi energi baru.
Gerindra bisa menjadi layaknya ‘dekengane pusat’ bagi calon yang didukungnya.
Namun, akan terasa berat jika partai tersebut hanya cawe-cawe sekedarnya saja, seperti hanya menyumbangkan modal kursi untuk pendaftaran paslon semata. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya