PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Potensi tembakau petani di Desa Tatung, Balong, Ponorogo, memang menggiurkan.
Bahkan, hasil melimpah dari pertanian tembakau di desa tersebut sudah diprediksi jauh-jauh hari atau sejak awal musim kemarau tahun ini.
Petani tembakau di Desa Tatung disebut-sebut bakal mengakhiri "puasa" panen raya.
Diketahui, dua tahun terakhir, mereka tak merasakan hasil manis dari keringatnya akibat pengaruh cuaca.
Pada tahun 2020 lalu, mereka meniadakan panen raya lantaran hujan turun lebih awal. Namun kali ini situasinya berbeda.
Desa penghasil tembakau andalan di Ponorogo tersebut diperkirakan mampu kembali membukukan omzet miliaran rupiah tahun ini.
Seperti diutarakan Kepala Desa Tatung Rudi Sugiarto. Tahun ini lahan pertanian tembakau di desanya meningkat.
Sedikitnya tercatat 400 petani tembakau di Desa Tatung. Merujuk hasil panen tahun lalu, Rudi memprediksi potensi hasil panen tahun ini tembus Rp 25 miliar.
"Semakin panjang musim kemaraunya kualitas juga baik, jadi banyak yang bertani tembakau tahun ini,’’ ujarnya.
Pun, dirinya menyebut jika luasan lahan tanaman tembakau yang ada di desanya naik. Dari musim sebelumnya 120 hektare menjadi 140 hektare.
Warga desa yang dulunya menenam padi, banyak yang beralih ke temakau pada musim kemarau tahun ini.
"Musim kemarau kelihatannya panjang, petani di desa kami bisa maksimal panen tembakau,’’ sebutnya pada awal bulan Agustus lalu.
Rudi juga mengungkapkan jika kualitas dan harga tembakau berada di level tertinggi di saat musim kemarau.
Keuntungan bersih yang didapat petani bisa mencapai Rp 100 juta per hektare.
Tanaman tembakau, lanjutnya, bisa dipanen hingga enam kali saat musim kemarau. Apalagi hasil panen tembakau langsung dikirim ke salah satu pabrik pengolah tembakau.
"Kualitas tembakau kami tidak diragukan lagi karena digunakan pabrik ternama,’’ ungkap Rudi ketika itu.
Diakuinya, mayoritas penduduk Desa Tatung mengais rejeki dari hasil menanam tembakau. Biasanya mereka mulai investasi usai panen raya.
Sudah jamak dilakukan warga setempat berganti mobil baru, merenovasi rumah, hingga membeli tanah untuk investasi pasca panen raya.
"Makanya kemarau panjang itu jadi berkah bagi warga kami,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya