PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Peredaran rokok ilegal di Ponorogo seolah tak pernah habis.
Hasil penelusuran tim redaksi Jawa Pos Radar Ponorogo, rokok tanpa pita cukai itu bisa ditemui nyaris di 21 kecamatan di Bumi Reog.
Para pedagang sengaja tak memajang rokok ilegal dagangannya itu di etalase toko.
Penjual rokok bodong tak berani blak-blakan menunjukkan dagangan kepada konsumen.
Baca Juga: Ironis! Peredaran Rokok Ilegal di Pacitan Kian Masif, Padahal Anggaran Penindakan Besar
Pun, biasanya mereka menerima pembelian barang bodong itu lewat jasa kurir, maupun cash on delivery (COD).
Titik (bukan nama sebenarnya), pemilik toko di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek menyodorkan berbagai merek rokok yang dijualnya.
Khususnya yang jarang atau bahkan tak mudah ditemui di pasaran pada umumnya.
Seluruhnya, tanpa dilekati pita cukai rokok dengan harga ramah di kantong. Dia sengaja tak memajang rokok itu di etalase.
"Nggak berani dipajang, kalau tanya baru ditunjukkan. Ada yang nyetok ke sini dari luar Ponorogo,’’ kata Titik.
Hal senda juga diungkapkan Prapto (nama samaran), pemilik toko di kecamatan wilayah selatan Ponorogo.
Ia selalu bertanya detail kepada setiap orang yang mencari rokok bodong di tokonya. Terkecuali pelanggan tetap.
"Mutarnya uang lebih cepat,’’ ujarnya.
Kasuistik serupa juga ditemukan di kecamatan wilayah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Dan juga kecamatan wilayah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Penjualan rokok ilegal itu lebih laris ketimbang rokok berpita cukai resmi.
"Harga rokok naiknya berlipat-lipat. Rokok ini (bodong, Red) rasanya sama dengan rokok M, harganya murah, ya, pilih ini,’’ ungkap D, seorang pelanggan rokok bodong.
Wilayah kota lebih elegan, pelanggan biasanya memilih COD. Ada pula yang memilih jual lewat marketplace.
Baca Juga: Pilkada Ponorogo 2024 : Pembagian Zona Kampanye Batal, Paslon Tetap Harus Patuhi Jadwal
Seperti yang dilakukan oleh Sumargo (nama samaran), setahun belakangan ini.
Dia memasok rokok bodong lewat marketplace, lalu dijual kembali melalui online, pelanggannya dari luar kota.
Dalam sebulan omzetnya tembus puluhan juta dari hasil jual rokok bodong melalui marketplace tersebut.
"Mainnya lewat online, nggak berani jual langsung apalagi tatap muka,’’ jelas Sumargo.
Macam-macam rokok bodong yang dijual nyaris serupa. Brand lokal seperti Sendang B, hingga American Blend mulai Smith, Manchester, San Marino, bahkan Oris dari Jerman.
Sumargo tak tahu pasti bagaimana seluruh rokok tersebut dapat masuk ke Indonesia.
"Yang jelas rasanya berkelas, harganya murah makanya banyak yang cari,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya