PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Dalam upaya mengoptimalkan pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat, dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendampingi kelompok perempuan dari Desa Jetis, Kabupaten Ponorogo.
Program ini bertujuan mengubah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi, yaitu dengan budidaya maggot (larva Black Soldier Fly).
Baca Juga: Pelatih Bahrain Tebar Psywar: Puji Pertahanan Timnas Indonesia, Yakin Menang 1-0
Program ini diinisiasi oleh Dr. Adi Santoso, SE., MM bersama tim yang terdiri dari dosen UMPO dan UMS, termasuk Ardyan Firdausi Mustoffa, SE., M.Si, Dr. Riawan, MM, dan Dwi Astuti, S.KM., M.Kes. Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek melalui skema pemberdayaan kemitraan masyarakat.
Mengelola Sampah Organik Menjadi Peluang Ekonomi
Dalam observasi lapangan, ditemukan bahwa pengelolaan sampah organik di Desa Jetis masih belum optimal.
Padahal, sampah organik dapat diolah menjadi pakan maggot yang bernilai tinggi sebagai pakan ternak.
Maggot juga bisa diolah menjadi pupuk organik.
“Pengelolaan sampah organik yang baik berpotensi besar untuk meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat, terutama melalui budidaya maggot,” jelas Nurus Syamsiyah, perwakilan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah Jetis.
Program ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang mencemari lingkungan, sekaligus meningkatkan pendapatan kelompok wanita di desa melalui hasil budidaya maggot.
Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar untuk menghindari dampak buruk bagi kesehatan lingkungan.
Dampak Positif dari Program Pemberdayaan
Selama 8 bulan, tim pengabdian masyarakat dari UMPO dan UMS melakukan pelatihan intensif kepada kelompok wanita di Desa Jetis.
Hasilnya, terdapat peningkatan signifikan dalam manajemen usaha dan keterampilan pengolahan limbah.
"Peningkatan pengetahuan dan keterampilan manajemen usaha mencapai 70%, sementara potensi peningkatan pendapatan hingga 30%," ungkap Ardyan Firdausi Mustoffa.
Selain itu, program ini berhasil mengurangi sampah organik yang mencemari lingkungan sekaligus menciptakan produk komersial seperti pakan ternak dari maggot.
Baca Juga: Khofifah-Emil Targetkan Menang Besar di Pacitan, Diprediksi Raup 80 Persen Suara
Dengan adanya fasilitas dan pelatihan, kelompok wanita di Desa Jetis kini mampu mengelola limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Penguatan Kemandirian Finansial Perempuan Desa Jetis, Kec. Jetis, Ponorogo
Program hibah dari DRTPM Kemendikbudristek ini turut membangun fasilitas budidaya maggot yang mendukung keberlanjutan program.
Adi Santoso, ketua tim pengabdian masyarakat, berharap program ini terus berkembang dan menjadi contoh sukses pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah.
“Kami berharap kelompok budidaya maggot ini dapat terus meningkatkan omset dan memperkuat kemandirian finansial rumah tangga,” ungkapnya.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan limbah dapat berjalan seiring, memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat desa. (tim umpo-ums/adv/kid)
Editor : Nur Wachid