Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

BPBD Sebut Dampak Kekeringan Tahun Ini Lebih Parah dari Tahun Lalu, 3.690 Jiwa Krisis Air Bersih

Sugeng Dwi N. • Selasa, 22 Oktober 2024 | 00:00 WIB
KEKERINGAN: Petugas BPBD Ponorogo melakukan survei sumber air di sumur warga Desa Tumpuk, Sawoo.
KEKERINGAN: Petugas BPBD Ponorogo melakukan survei sumber air di sumur warga Desa Tumpuk, Sawoo.

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih masih dirasakan warga yang berdomisili di wilayah terdampak kekeringan.

Ribuan warga Ponorogo terdampak kekeringan mengandalkan kiriman air bersih dari BPBD setempat.

Bencana kekeringan dampak musim kemarau tahun ini disebut-sebut lebih parah ketimbang tahun 2023 lalu.

Kalaksa BPBD Ponorogo Masun membeberkan, kesulitan air bersih dirasakan warga di 25 dusun di 20 desa tersebar di delapan kecamatan.

Sementara tahun lalu, 15 dusun di 13 desa. Bahkan hingga jelang penghujan, pihaknya menerima permintaan dropping air bersih dari tiga desa baru.

Yakni, Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo; Desa/Kec. Slahung dan Desa Karangan, Kecamatan Badegan.

“Desa Tumpuk dan Slahung sudah kami lakukan assessment dan mulai kami kirim air bersih. Sementara Karangan masih menunggu proses assessment,’’ jelasnya.

Masun menyebut ketiga desa tersebut merupakan wilayah yang sebelumnya belum pernah mengalami krisis air bersih.

Desa Tumpuk (Sawoo) salah satunya, sebanyak 465 jiwa di Dusun Gondang terdampak kekeringan.

Hal serupa dirasakan 145 jiwa di Dusun Gembes dan Dusun Tengger, Desa/Kec. Slahung.

"Untuk jumlah jiwa terdampak di Desa Karangan, Badegan belum bisa kami data karena masih akan melakukan assessment,’’ terangnya.

Total 1.319 kepala keluarga (KK) terdiri dari 3.690 jiwa mengandalkan kiriman air bersih bantuan BPBD dan relawan.

Jika tak kunjung turun hujan, Masun memprediksi krisis air bersih semakin meluas.

‘’Merujuk prediksi BMKG, musim penghujan mulai akhir Oktober ini,’’ tandasnya. (gen/kid) 

Editor : Budhi Prasetya
#musim kemarau #krisis air bersih #kekeringan #ponorogo