Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Benih Padi 14 Ton per Hektare Bukan Karya Anak Muda Ponorogo, Begini Faktanya

Sugeng Dwi N. • Kamis, 31 Oktober 2024 | 19:06 WIB
Engky Bastian atau Eba yang disebut Sugiri Sancoko dalam debat Pilkada Ponorogo terkait asal usul benih padi 14 ton per hektare angkat bicara. (ISTIMEWA)
Engky Bastian atau Eba yang disebut Sugiri Sancoko dalam debat Pilkada Ponorogo terkait asal usul benih padi 14 ton per hektare angkat bicara. (ISTIMEWA)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Pernyataan Cabup Sugiri Sancoko dalam debat pertama dalam Pilkada Ponorogo 2024 yang menyebut benih padi 14 ton sebagai karya anak muda Ponorogo menarik perhatian publik.

Engky Bastian, yang namanya disebut-sebut dalam pernyataan tersebut, merasa perlu meluruskan informasi yang beredar.

Menurut Eba, sapaan Engky Bastian, padi dengan nama varietas Kreasi Insan Petani (KIP) tersebut sebenarnya merupakan hasil penelitian Prof. Hariyadi dari Malang.

"Saya menonton debat tersebut melalui platform digital dan cukup kaget saat nama saya disebut. Ada beberapa fakta yang sebaiknya dijelaskan agar lebih jelas dan sesuai kenyataan," ungkap Eba, sapaan akrab Engky Bastian, kepada wartawan, Rabu (30/10/2024).

Asal Usul Benih Padi KIP

Eba menegaskan bahwa benih padi KIP bukanlah hasil karya masyarakat Ponorogo secara langsung, melainkan hasil penelitian Prof. Hariyadi. Sebelumnya, benih ini dikenal dengan nama HMS.

"Benih ini adalah hasil penelitian Prof. Hariyadi dari Malang. Saya waktu itu memperkenalkan Pak Sugiri dan Bu Lisdyarita kepada beliau," jelas Eba.

Pertemuan tersebut terjadi di Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu (PKPOT) di Pakisaji, Malang, di mana tim Sugiri melihat langsung potensi benih HMS yang mampu menghasilkan hingga 14 ton per hektare. Bahkan, dalam perawatan khusus, hasil panen bisa mencapai 16 ton per hektare.

Eba menambahkan, Sugiri Sancoko kemudian menawarkan Prof. Hariyadi untuk menjadi Ketua Pusat Pengembangan Pertanian Ponorogo (P4) serta mematenkan benih HMS menjadi varietas KIP dengan klaim sebagai karya masyarakat Ponorogo.

Terkait legalitas dan hak cipta, rencananya juga akan diurus melalui Kementerian Pertanian.

"Sugiri menawarkan pengurusan hak paten dan biaya terkait yang disepakati sekitar Rp 1 miliar. Setelah itu, dilakukan uji coba di dua lokasi lahan di Babadan," papar Eba.

Namun, setelah satu bulan uji coba, Prof. Hariyadi merasa kurang ada tindak lanjut sesuai komitmen awal.

Pemberian nutrisi pun terhenti, dan akhirnya hasil panen tidak sesuai dengan ekspektasi awal, yakni sekitar 5 ton per hektare.

"Proyek ini kemudian tidak berlanjut karena adanya kendala komunikasi dan komitmen. Pernyataan dalam debat mengenai penelitian benih KIP memang perlu diluruskan dipahami dalam konteks yang tepat," tambah Eba. (gen/id/kid)

Editor : Nur Wachid
#klarifikasi #pilkada #fakta #Malang #karya #Pertama #anak #hektare #2024 #Bukan #padi #Per #sugiri #14 ton #Prof #sancoko #Benih #Lisdyarita #debat #hariyadi #penelitian #ponorogo #Hasil