PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Musim hujan akhir tahun ini membuat BPBD Ponorogo siap siaga.
Seluruh personel waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang mengancam di wilayah Ponorogo.
Personel kegawatdaruratan itu senantiasa siap setiap saat menjalankan fungsi koordinasi, komando, dan pengendalian bencana yang jadi komitmen BPBD Ponorogo menunaikan tugas kemanusiaan.
Mereka menyadari menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana responsif, cepat, tanggap, serta upaya mitigasi kedaruratan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Ponorogo Masun mengungkapkan, sedikitnya 130 kejadian bencana hidrometeorologi melanda kabupaten ini terhitung Oktober hingga pekan pertama Desember ini.
Perinciannya, 60 kejadian tanah longsor, 45 banjir, serta 25 laporan cuaca ekstrim. Bencana nyaris tersebar merata di 70 desa 19 kecamatan (selengkapnya lihat grafis).
“Sesuai prediksi BMKG musim penghujan di Ponorogo terjadi ada Oktober, dan puncaknya pada November dengan kisaran curah hujan 1.500-2.000 milimeter,’’ kata Masun.
Berbagai upaya dilakukan BPBD Ponorogo untuk mengantisipasi dan menanggulangi bencana hidrometeorologi.
Seperti penetapan status tanggap darurat, berkoordinasi dengan OPD terkait, membentuk Pos Komando Penanganan Darurat Bencana, melakukan pembersihan sampah di sungai yang tersumbat, hingga memberikan logistik warga terdampak.
‘’Ada sekitar 149 paket logistik yang kami bagikan, mulai selimut, family kit, masker, hingga makanan siap saji,’’ terangnya.
Masun menambahkan, normalisasi sungai menjadi tugas pokok BPBD Ponorogo di musim hujan akhir tahun 2024 ini.
Sedikitnya 22 sungai dikeruk menggunakan tiga eskavator. Mulai Kecamatan Kota, Kauman, Jambon, Balong, Sampung, hingga Sukorejo.
Penyumbat aliran seperti sampah, rumpun bambu, hingga lumpur dikeruk mengembalikan fungsi sungai.
Perbaikan tanggul jebol dengan bronjong turut dilakukan di empat titik, yakni tanggul di Kelurahan Singosaren, Jenangan, tanggul Desa Tumpuk, Sawoo, tanggul Desa Maguwan dan tanggul Desa Kemuning di Kecamatan Sambit.
“Selain melakukan tugas utama kami yakni penanganan kedaruratan saat bencana terjadi,’’ paparnya.
Masun memastikan penanganan bencana dan kedaruratan bakal terus dimaksimalkan. Membantu masyarakat terdampak bencana alam.
‘’Selalu perhatikan lingkungan sekitar khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana, apalagi saat hujan deras dan angin kencang,’’ pungkasnya. (gen/kid/*)
130 BENCANA HIDROMETEOROLOGI
60 kejadian tanah gerak atau longsor
45 kejadian banjir
25 kejadian cuaca ekstrem
70 desa/kelurahan
19 kecamatan
22 TITIK PENGERUKAN SAMPAH SUNGAI
Sungai di Kelurahan Pakunden, Ponorogo
Sungai di Desa Pengkol, Kauman
Sungai di Desa Bringinan, Jambon
Sungai di Desa Bajang, Balong
Sungai di Desa BuluKidul,Balong
Sungai di DesaCarangrejo, Sampung
Sungai di Kelurahan Purbosuman, Ponorogo
Sungai di Desa Nampan,Sukorejo
Sungai di Desa Ronosentanan,Siman
Sungai di Desa Sukorejo,Sukorejo
Sungai di Desa Golan,Sukorejo
Sungai di Desa Bulak, Balong
Sungai di Desa Sendang, Jambon
Sungai di Desa Purworejo,Balong
Sungai di Kel. Purbosuman, Ponorogo
Sungai di Kel. Mangunsuman, Siman
Sungai di Desa Bangunrejo,Sukorejo
Sungai di Desa Ringin Putih, Sampung
Sungai di Desa Ngampel, Balong
Sungai di Desa Brahu, Siman
Sungai di Desa Sedarat, Balong
TITIK PERBAIKAN TANGGUL
Tanggul di Dusun Glagah Desa Maguwan, Sambit
Tanggul di Dusun Jogowangsan Desa Kemuning, Sambit
Tanggul di Lingkungan Panjen Kel. Singosaren, Jenangan
Tanggul di Dusun Gondang Desa Tumpuk, Sawoo
(Sumber: BPBD Ponorogo)
Editor : Budhi Prasetya