PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Puluhan dadak merak Reog Ponorogo melakukan atraksi memukau di depan Paseban Alun-alun Ponorogo hari Minggu (22/12).
Gerakan pembarong (pemain dadak merak, Red) itu terlihat selaras dengan alunan gamelanan yang mengiringi penampilan setiap grub Reog Ponorogo.
Namun ada sejumlah dadak merak yang menarik perhatian penonton. Yakni kepiawaian pembarong perempuan turut andil dalam pertunjukan serentak tersebut.
Ya, seniman Reog Ponorogo yang tergabung dalam grub Sardulo Nareswari dari Desa/Kec. Sawoo ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Sedikitnya 50 seniman perempuan mulai dari pembarong, jathil, bujang ganong, klono sewandono, dan penabuh gamelan, tergabung dalam grub Sardulo Nareswari.
"Kami berdiri sejak 2015 lalu, berawal dari kumpulan PKK terus ada ide membuat grup reog,’’ ujar Tri Heni Astuti, Ketua Grup Reog wanita Sardulo Nareswari.
Suprihatin, salah seorang pembarong wanita membeberkan, menjadi pembarong perempuan susah-susah gampang.
Selain berat dadak merak, penyelarasan gerakan dengan alunan gamelan juga menjadi tantangan.
"Tentu tenaga wanita dengan laki-laki berbeda, jadi berat dadak merak itu menjadi salah satu kesulitannya,’’ jelas Suprihatin.
Peran ibu rumah tangga turut menjadi kendala dalam melestarikan budaya. Tak jarang semangat menggebu harus dipendam karena terbentur kewajiban mengurus rumah tangga.
Dia berharap peran perempuan dalam melestarikan kesenian Reog Ponorogo menjadi keistimewan di mata dunia.
"Tentu bangga bisa ikut melestarikan budaya Ponorogo ini, karena tidak semua perempuan bisa menjadi pembarong,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya