PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Bencana banjir yang melanda Ponorogo menjelang penghujung tahun 2024 membawa dampak negatif lain.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo kini panen laporan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK).
Catatan yang dimiliki dispertahankan setempat, setidaknya ada 157 laporan temuan kasus PMK setahun belakangan ini.
Baca Juga: Gugatan Sengketa Hasil Pilkada Ponorogo Diumumkan MK Hari Ini, Ditolak atau Diterima?
Hal itu dibenarkan Kabid Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (PKHP) Dispertahankan Ponorogo Siti Barokah.
Ia mengatakan, dari total ratusan kasus tersebut, hanya satu ekor sapi yang dilaporkan mati mendadak.
Sedangkan dua hewan ternak lainnya yang diduga terpapar PMK dipotong paksa. Temuan kasus menyebar di 41 desa pada 15 kecamatan.
Laporan kasus terbanyak di Desa Wagir Kidul, Pulung, Ponorogo. Wilayah itu menjadi zona merah sebaran PMK saat ini.
"Kasus sebelumnya masih landai, tapi begitu banjir langsung banyak lagi,’’ kata Siti.
Disinggung temuan banyaknya sapi mati di Desa Jimbe dan Plalangan, Kecamatan Jenangan, Barokah tak merespon pasti.
Dirinya hanya mengatakan jika PMK telah masuk ke Ponorogo. Pihaknya terus menantikan laporan kasus merebaknya penyakit mulut dan kuku itu dari warga.
"Mungkin data itu tidak dilaporkan ke kita, jadi selama dilaporkan ke kita pasti ada tindak lanjutnya,’’ jelasnya.
Barokah menambahkan, stok vaksin PMK habis. Pihaknya menanti pengadaan dari kementerian. Dia mengimbau peternak menjaga lalu lintas ternak.
"Vaksin (PMK, Red) saat ini habis, kita tidak bisa melakukan vaksinasi, tidak tidak tahu program pemerintah bagaimana,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya