PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Pengunjung obyek wisata Telaga Ngebel disuguhi pemandangan yang kurang enak dipandang.
Bangkai ikan nila milik warga yang dipelihara di keramba mengapung di Telaga Ngebel, Kecamatan Jenangan, Ponorogo.
Kondisi itu sudah mulai terlihat sejak hari Jumat 30 Januari 2025. Hingga saat ini, ikan nila yang mati ditaksir sudah mencapai ribuan.
Baca Juga: 50 Hektare Tanaman Padi Petani di Lima Kecamatan Terserang Penyakit Asem-aseman, Ini Ciri-cirinya
Informasi yang dihimpun, kematian ikan di telaga tersebut imbas dari fenomena belerang serta perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Pembudidaya ikan nila pun terancam rugi. Mulyadi, salah seorang pembudidaya mengatakan bahwa ikan mati ditemukan di ratusan keramba milik warga.
Ikan berukuran kecil hingga indukan seberat 1 kilogram terimbas. Kondisi tersebut biasa terjadi pada bulan Januari-Februari tiap tahunnya.
"Katanya, mati karena belerang. Memang saat diangkat ada bau belerangnya,’’ kata Mulyadi.
Kondisi tersebut memaksa Mulyadi panen dini. Dia terpaksa menjual ikan yang belum mati ke pasar dua hari belakangan.
Kendati jelas merugi, cara itu ditempuh antisipasi kerugian yang lebih besar.
"Dari Rp 28 ribu per kilogram ikan nila hidup jadi Rp 25 ribu per kilogram, yang saya jual itu yang masih fresh, masih hidup karena saya khawatir rugi banyak,’’ jelasnya.
Dwi Prastyono, pembudidaya lainnya menambahkan, lebih dari 200 kilogram ikannya mati sepekan terakhir.
Paling banyak terjadi Sabtu-Minggu lalu. Dia menduga disebabkan kemunculan belerang, cuaca dingin serta angin kencang.
"Tidak berani dimakan karena bau belerang, khawatir beracun,’’ terang Dwi.
Selain nila, beberapa jenis ikan lain turut ditemukan mati. Seperti ikan nila merah, nila hitam, tombro, tawes dan gurami.
Hanya ikan lele yang masih dapat bertahan hidup hingga kini.
"Rugi banyak, ini saya pakai pompa air agar dapat asupan oksigen. Kalau yang lain banyak yang mati,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya