PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Tradisi Jamasan Tumpak Landep berlangsung sakral di Griya Duwung, Desa Beton, Siman, Sabtu 22 Februari 2025.
Sedikitnya 58 keris, dua tombak dan sebuah kujang dijamas dalam kegiatan Tumpak Landep yang rutin digelar di Desa Beton, Siman, Ponorogo, itu.
Tradisi jamasan tersebut digelar rutin oleh pecinta pusaka setiap tahunnya sebagai bentuk syukur.
Prosesi jamasan dimulai dengan menyiram pusaka menggunakan air bunga tujuh rupa. Air tersebut berasal dari tujuh mata air yang dianggap bertuah di Ponorogo.
Selama jamasan, mereka diwajibkan melakukan Pasopati, berdiam diri selama ritual berlangsung.
"Setelah itu juga ada larungan yang merupakan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan alam semesta,’’ kata Kang Paysu, sesepuh Griya Duwung.
Ritual jamasan pusaka itu merupakan warisan turun-temurun untuk merawat benda peninggalan leluhur.
Salah satu tujuannya, dipercaya dapat meningkatkan nilai spiritual pemilik pusaka. Ritual Tumpak Landep turut menjadi edukasi bagi warga sekitar.
"Tumpak Landep ini kami mulai sejak Jumat diawali doa bersama,’’ katanya sembari menyebut prosesi ditutup dengan pertunjukan reog tua.
Agung Priyanto, peserta jamasan, menyebut bahwa ritual tersebut tak sekadar membersihkan pusaka semata.
"Pusaka ini turun-temurun diwariskan leluhur, jadi harus dirawat dengan baik,’’ kata Agung. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya