Jawa Pos Radar Madiun – Persoalan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mrican belum kunjung tuntas.
Dampak pencemaran lingkungan kian parah, terutama saat musim penghujan seperti sekarang.
Air lindi dan tumpukan sampah dari TPA mencemari saluran irigasi pertanian di wilayah sekitar.
Ibnu Athoillah, petani setempat, mengaku sudah tak sanggup lagi mengandalkan air irigasi.
Pasalnya, air menghitam, bau menyengat, dan bercampur sampah plastik serta botol kaca.
“Kalau kena kulit, gatal-gatal. Saya sekarang lebih memilih pakai air sumur,” keluhnya, Minggu (18/5).
Ibnu menyebut, kondisi ini rutin terjadi setiap musim hujan. Bersama petani lain, ia terpaksa kerja bakti membersihkan saluran irigasi agar tidak tersumbat.
Namun, derasnya aliran air yang membawa sampah dari TPA membuat usaha mereka seperti sia-sia.
“Kalau tidak dibersihkan, aliran mampet, tanaman bisa gagal panen,” tegasnya.
Kepala UPT TPA Mrican Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo Abri Susilo membenarkan kondisi tersebut.
Ia mengakui, TPA Mrican kini dalam kondisi overload dan tak lagi mampu menampung kiriman sampah dari berbagai wilayah.
Akibatnya, sebagian sampah meluber ke area persawahan dan saluran irigasi.
“Kami sudah melapor ke dinas. Saat ini masih dalam proses pembahasan penggunaan lahan milik Perhutani untuk perluasan TPA,” terang Abri.
Meski demikian, belum ada kejelasan kapan perluasan akan dilakukan.
Sementara itu, warga dan petani sekitar hanya bisa berharap masalah ini segera ditangani sebelum kerusakan lingkungan semakin parah dan berdampak luas terhadap produksi pertanian. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto