Jawa Pos Radar Madiun – Megaproyek Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) butuh anggaran berjibun.
Tak kepalang tanggung, sedikitnya butuh Rp 88,8 miliar menuntaskan monumen yang diklaim lebih tinggi dari Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali, patung tertinggi di Indonesia.
Pemkab Ponorogo ancang-ancang mengalokasikan kebutuhan anggaran tersebut pada RPJMD 2025-2029.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan dalam RPJMD, skema pembiayaan MRMP terbagi dalam lima tahun anggaran.
Pada 2026, sedikitnya dibutuhkan Rp 35,7 miliar untuk melanjutkan pembangunan kawasan MRMP, serta Rp 24, 1 miliar pada 2027 (selengkapnya lihat grafis).
‘’Dalam perencanaan RPJMD, kami masukkan pembangunan MRMP ini dalam program pembinaan sejarah,’’ kata Kang Giri, sapaan bupati.
Lantas apakah anggaran jumbo itu bakal dibebankan APBD? Kang Giri menjamin tidak seluruhnya anggaran MRMP dialokasikan dari APBD.
Opsinya, dicukupi dengan skema pembiayaan pihak ketiga.
Adapun anggaran dibutuhkan untuk melengkapi pembangunan pendukung, seperti main building, lift, museum, gardu pandang serta tempat edukasi dan penangkaran merak.
‘’Kami bicarakan anggaran ini sejak awal, bisa dari APBD atau skema pihak ketiga. Kebutuhannya sudah kami hitung sejak awal, agar tidak kaget dan ada kesiapan,’’ jelasnya.
Sejauh ini, megaproyek di Desa/Kecamatan Sampung, Ponorogo tersebut telah menelan anggaran Rp 73,87 miliar.
Bersumber dari APBD Ponorogo serta provinsi. Saat ini progres pembangunan menyentuh bangunan utama dadak merak.
Monumen Reog Ponorogo semula ditarget tuntas tahun ini. Jika sudah terbangun, tingginya akan mencapai 126 meter.
‘’Kami berharap monumen ini segera selesai, sehingga bisa dibuka untuk umum agar semua ekonomi sekitar kawasan bergerak,’’ ujarnya. (gen/kid)
5 Tahun Kebutuhan Anggaran MRMP
Rp 35,7 miliar 2026
Rp 24,1 miliar 2027
Rp 23 miliar 2028
Rp 3 miliar 2029
Rp 3 miliar 2030
Rp 88,8 Miliar Total Kekurangan Anggaran
Anggaran yang Terealisasi: Rp 73,87 miliar (2023-sekarang)
Editor : Mizan Ahsani