MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah kesibukan sebagai anggota Satlantas Polres Ponorogo, Brigadir Luhur Ainul Fikri meluangkan waktu untuk melestarikan kesenian reog.
Setiap Jumat sore, ia dengan sukarela mengajar anak-anak tunanetra di Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah, Ponorogo.
Tak sekadar berbagi ilmu, Brigadir Luhur juga menggunakan dana pribadinya untuk membeli alat musik gamelan.
Kecintaannya pada Reog sudah tumbuh sejak kecil.
Bahkan saat sempat gagal menjadi polisi, dia tetap mengajar reog di sekolahnya.
Setelah akhirnya lulus pendidikan Polri pada 2016 dan bertugas di Ponorogo, dia kembali terpanggil mengajarkan kesenian reog kepada anak-anak tunanetra.
’’Mereka cerita ingin belajar reog. Saya langsung tawarkan untuk melatih,’’ kenangnya.
Sejak 2022, dia rutin datang setiap Jumat.
Meski bukan hal mudah mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, Brigadir Luhur memilih metode yang sesuai, menyentuh langsung, menyebut nama alat, dan membiasakan pendengaran anak-anak terhadap suara gamelan.
‘’Yang penting sabar. Pelan-pelan mereka hafal,’’ tuturnya.
Dedikasinya tak terbatas. Dia membeli angklung dan kenong dari uang sendiri, meminjam kendang dari kantor dan gong dari SMA Muhammadiyah.
Berkat kesabaran, anak-anak asuh Brigadir Luhur kini telah tampil di berbagai acara, termasuk di Alun-alun Ponorogo dan peringatan HUT Polda Jatim.
Bahkan mereka tampil percaya diri dan tak canggung di depan umum.
’’Semua bisa, asal diberi kesempatan dan didampingi dengan sabar,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid