Jawa Pos Radar Ponorogo – Barangkali hidup adalah doa yang panjang, seperti ditulis Sapardi Djoko Damono.
Doa itu kini terwujud bagi Avan Ferdiansyah Hilmi.
Siswa SMAN 1 Ponorogo, anak penjual es keliling, membuktikan bahwa mimpi besar tak selalu butuh karpet merah.
Ia resmi diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Rumah sederhananya di Mangkujayan, Ponorogo, dipenuhi puluhan hingga ratusan trofi berbagai ukuran—milik Avan, hasil kompetisi bergengsi dari tingkat kabupaten sampai nasional.
Tak ada les privat, semua piala didapat berkat kerja keras, belajar mandiri, dan ketekunan di sela membantu orang tua menyiapkan dagangan es keliling.
ITB adalah impian Avan sejak kelas X. Ia memilih Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, sesuai passion sekaligus prestasi sebagai juara Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Sejak SD, Avan konsisten jadi delegasi sekolah pada berbagai lomba akademik.
‘’ITB itu sudah jadi impian saya sejak kelas X. Dari awal saya targetkan masuk lewat SNBP, jadi saya nge-push nilai harian dan ikut berbagai lomba, terutama yang berkaitan sama ITB,’’ ungkapnya.
Di rumah berukuran 6 x 10 meter itu, Avan betah berjam-jam membaca buku.
Segala pencapaian ia raih tanpa bimbingan belajar khusus.
‘’Ikut lomba untuk melatih mental. Tapi makin lama terbiasa dan percaya diri maju ke ajang yang lebih besar. Saya ingin melanjutkan apa yang sudah saya mulai sejak SMA,’’ sambungnya.
Kini perjuangan Avan berlanjut. Uang kuliah tunggal (UKT) di kampus impian memang tidak murah.
Namun sang ayah, Eko Yulianto, berharap pengajuan KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) yang sedang diproses bisa meringankan beban keluarga.
“UKT-nya tinggi. Tapi kami sedang berusaha agar bisa dibantu lewat program KIP-K. Sudah konfirmasi ke pihak kampus, katanya diminta menunggu proses verifikasi,” ujar Eko, ayah Avan. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto