Jawa Pos Radar Ponorogo – Telaga Ngebel kembali dilanda musibah ekologis tahunan.
Ribuan ikan nila di keramba mendadak mati dan mengambang di permukaan air, mengeluarkan bau anyir khas belerang yang begitu menyengat, kemarin (9/7).
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, bahkan menjadi siklus yang berulang setiap Januari-Februari dan Juli-Agustus, seiring perubahan suhu air dan naiknya kadar belerang dari dasar telaga.
Hadi Santoso, salah satu pemilik tambak di Ngebel, hanya bisa pasrah melihat separuh lebih ikan nila miliknya mati dalam tiga hari terakhir.
Setiap pagi, Hadi mengangkat lebih dari 50 kilogram ikan mati dari keramba.
Nasib ribuan ekor nila yang seharusnya siap panen itu berakhir tragis: dikubur atau diolah menjadi pakan ternak.
Ia sama sekali tidak berani mengonsumsi atau menjualnya ke pengunjung.
“Sekarang sekitar 50 persen ikan saya sudah mati, mau dipanen dini juga percuma,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Bagi petambak, fenomena tahunan ini sudah seperti siklus yang menakutkan.
Setiap kali angin kencang datang, kadar belerang di dasar telaga akan terdorong ke permukaan, memicu perubahan warna air menjadi hijau kekuningan, terutama di waktu pagi dan sore.
“Kalau nanti sudah tidak musim angin, kondisinya kembali normal. Sementara ini saya tidak menyebar benih dulu, takut rugi,” ujar Agus Susilo, petambak lain di sekitar telaga. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto