Jawa Pos Radar Ponorogo – Masjid Agung R.M.A.A Tjokronegoro menjadi saksi sejarah Ponorogo sejak abad ke-19.
Cikal bakalnya berupa surau yang didirikan Kiai Abdurrahman atau Ki Glendung.
Pada 1858, Adipati Ponorogo ke-4 R.M.A.A Tjokronegoro membangun surau itu menjadi masjid bergaya Mataraman Jawa.
R.M.A.A Tjokronegoro, kakek HOS Tjokroaminoto, memimpin Ponorogo pada 1856–1882.
Namanya diabadikan sebagai nama masjid dan dimakamkan di belakang kompleks tersebut.
“Seperti di kota-kota lama lainnya, masjid besar selalu berdampingan dengan alun-alun dan pasar,” kata Takmir Masjid Haryanto.
Material kayu masjid berasal dari Alas Sooko yang kondang kualitasnya.
Pohon-pohon besar diangkut satu per satu lewat sungai dengan gotong royong warga.
Masjid terbesar di Ponorogo itu telah tiga kali dipugar, yakni pada 1975, 2002, dan 2003 di masa Markum Singodimedjo.
Menara setinggi 27 meter dibangun pada 1996. Renovasi serambi dan penggantian kayu dilakukan 1997 dengan tetap mempertahankan desain asli. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto