Jawa Pos Radar Ponorogo – Tradisi methik pari (memetik padi) tetap lestari di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Ponorogo.
Menjelang panen raya, ratusan petani setempat menggelar doa bersama sebagai ungkapan syukur.
Prosesi dimulai dengan sesepuh desa yang memetik beberapa tangkai padi (pari) secara simbolis.
Kepala Desa Glinggang, Gunung, menyebut tradisi tahun ini berlangsung lebih semarak.
Hasil panen terbilang berlimpah meski sebelumnya hama wereng sempat mengancam.
’’Panennya bagus, tidak ada petani yang gagal panen karena hama. Acara ini bentuk syukur,’’ jelasnya.
Tradisi methik pari sejatinya pernah hampir punah beberapa tahun lalu karena minat warga menurun.
Namun, sejak sembilan tahun lalu, pemerintah desa menghidupkannya kembali dengan menambahkan unsur hiburan.
’’Ini bukan hanya bentuk syukur, tapi juga cara warga menjaga tradisi nenek moyang,’’ imbuh Gunung.
Kepala Disbudparpora Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menilai methik pari punya nilai budaya sekaligus potensi wisata.
’’Ponorogo bukan hanya reog, tradisi seperti methik pari juga bisa jadi identitas desa. Kalau tidak kita jaga, lambat laun akan hilang,’’ ujarnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto