Jawa Pos Radar Ponorogo – Persoalan sampah di Ponorogo mendapat perhatian serius.
Satgas Penghijauan yang identik dengan reboisasi kini diterjunkan mengurai sampah organik.
Limbah harian itu diolah melalui biopori, memanfaatkan peran mikroorganisme dan cacing tanah.
Ketua Satgas Penghijauan Ponorogo, Bambang Suhendro, menyebut 60–65 persen sampah di Ponorogo berupa organik.
Jika dikelola dari sumbernya, beban TPA bisa berkurang signifikan.
“Berbeda dengan plastik bernilai ekonomis, sampah organik juga punya peluang sendiri,” katanya.
Rumah dinas bupati (Pringgitan) dijadikan demplot percontohan. Tiga biopori jumbo dibangun untuk menampung sampah organik harian.
Targetnya, tidak ada lagi sampah organik yang dikirim ke TPA Mrican.
Program serupa disiapkan di Pasar Legi. Survei Disperdagkum mencatat pasar terbesar di Ponorogo itu menghasilkan 8,4 meter kubik sampah organik per hari.
Empat hingga enam biopori jumbo akan dibangun di sana untuk menekan produksi sampah ke TPA Mrican.
“Segera kami mulai, pasar lain menyusul,” ungkap Bambang.
Program ini diharapkan jadi percontohan lingkungan mengelola sampah mandiri. Selain menekan produksi sampah, biopori juga bernilai ekonomis.
“Kami harap warga ikut menerapkan. Ponorogo bukan hanya hijau karena pohon baru, tetapi juga bersih dari sampah dan punya cadangan air tanah,” pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto