Jawa Pos Radar Ponorogo – Gempuran hiburan modern tak membuat wayang kulit ditinggalkan begitu saja.
Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Ponorogo justru berkomitmen membumikan warisan adiluhung itu lewat pentas rutin tiap bulan.
Dalang sepuh hingga dalang muda diberi panggung, memastikan regenerasi tetap berjalan.
Suasana magis terasa di Gedung Kesenian Ponorogo, Sabtu (30/8) malam.
Gamelan dan tembang karawitan mendayu, dalang Ki Gondo Suparno mengetuk keprak, menghadirkan lakon Lampahan Kesampar Kesandung.
Kisah klasik yang pernah dipopulerkan Raden Ngabehi Ronggowarsito itu menggambarkan satrio piningit yang menapaki jalan penuh cobaan.
Ketua Pepadi Ponorogo, Bopo Sindu Parwoto, menegaskan pentas wayang bukan sekadar hiburan, tapi media menyampaikan pesan hidup.
“Kalau tampil asal-asalan, pasti malu. Jadi, ini sekaligus jadi motivasi bagi dalang dan sinden untuk terus belajar,” ujarnya.
Pepadi menargetkan setiap kecamatan di Ponorogo akan mendapat jatah tampil.
Dengan pola ini, dalam dua tahun seluruh dalang muda dipastikan kebagian panggung.
“Ending-nya tetap di tangan dalang muda. Kalau tidak ada generasi penerus, wayang bisa punah,” jelas Bopo.
Tradisi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak era 1970-an.
Kala itu, pentas digelar rutin setiap malam Jumat Pon di Alun-Alun Ponorogo.
Kini, pola pertunjukan menyesuaikan lokasi, namun semangatnya tetap sama.
Yakni menjaga wayang tetap hidup dan dekat dengan masyarakat.
“Sejak 2004, jadwal kami ubah menjadi setiap malam Minggu terakhir tiap bulan. Gratis dan terbuka untuk umum,” pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto