Jawa Pos Radar Ponorogo – Gua Sahal di Dusun Wonojati, Desa Suren, Kecamatan Mlarak, menyimpan kisah heroik pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH. Ahmad Sahal.
Di tempat sunyi itu, sang kiai besar berlindung dari kejaran pemberontak PKI pada 1948.
Gua tersebut, yang dulunya bernama Gua Kusuma, menjadi saksi bisu perjuangan ulama dan santrinya bertahan dari masa kelam pemberontakan PKI Madiun.
Dengan semboyan kelam “pondok bobrok, langgar bubar, santri mati”, para pemberontak kala itu memburu para kiai dan membumihanguskan pesantren di wilayah Mataraman.
“Setelah Magetan, ancaman menyasar Ponorogo. PMDG ada di garis depan bahaya.
Maka, disepakati KH Ahmad Sahal harus diungsikan demi keselamatan pesantren dan santrinya,” ujar Imam, perawat Gua Sahal, menceritakan kembali kisah itu.
Perjalanan menuju gua tak mudah. Berjarak sekitar 6,5 kilometer dari Gontor, jalurnya berupa jalan setapak di antara jurang dan hutan bambu.
Akar-akar pohon menjadi pegangan untuk menapaki lereng curam menuju mulut gua yang hanya selebar lima meter.
Bersama beberapa santri, KH Ahmad Sahal berjalan kaki menembus gelapnya malam.
Sesampainya di gua, mereka bersembunyi sambil tetap mengaji.
“Di gua yang dingin dan lembap itu, beliau masih mengajarkan ilmu agama. Padahal nyawa dipertaruhkan,” jelas Imam.
Keesokan harinya, pasukan PKI benar-benar mendatangi Gontor untuk mencari sang kiai. Namun, pencarian itu gagal total.
KH Ahmad Sahal selamat bersama santrinya.
Sejak saat itu, Gua Kusuma dikenal sebagai Gua Sahal, simbol perjuangan ulama dan perlawanan terhadap kekejaman PKI.
“PKI tidak menemukan beliau. Akses gua memang sulit, tapi tempat itu kini dikenal luas di kalangan masyarakat dan santri,” imbuh Imam. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto