Jawa Pos Radar Ponorogo – Potensi gempa bumi di Ponorogo perlu diwaspadai meski wilayah ini jauh dari gunung berapi maupun laut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Nganjuk menggelar sekolah lapang gempa (SLG) Rabu (15/10) lalu.
Kegiatan itu diikuti personel BPBD, OPD, dan relawan kebencanaan.
Mereka dibekali pengetahuan mitigasi, cara pertolongan, hingga bertahan hidup saat gempa terjadi.
Kalaksa BPBD Ponorogo, Masun, menyebut kabupaten ini masuk kategori risiko sedang bencana gempa bumi.
Temuan itu berdasarkan dokumen kajian risiko bencana 2025–2030.
Dari lima bencana prioritas di Ponorogo, salah satunya adalah gempa bumi.
“Kalau tsunami, tidak berpotensi karena kita jauh dari laut,” ujarnya.
Masun menjelaskan, potensi itu berkaitan dengan keberadaan Sesar Grindulu yang melintas di Kecamatan Ngrayun dan Bungkal lalu berlanjut ke Pacitan.
Dalam sepuluh tahun terakhir, tren kejadian gempa di Bumi Reog meningkat.
Karena itu, edukasi dan pelatihan mitigasi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Sesar Grindulu memang ada. Soal aktif atau tidak, perlu dikaji lebih lanjut oleh BMKG,” jelasnya.
Pengalaman gempa pada 2006, 2021, dan 2023 menjadi pelajaran penting.
Bangunan tua tanpa struktur beton paling berisiko saat diguncang gempa.
“Biasanya dindingnya hanya bata tanpa besi bertulang. Ke depan seharusnya tidak ada lagi bangunan kuno seperti itu,” tegasnya.
Masun berharap SLG bisa menumbuhkan kesadaran baru bagi relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
“Mereka bisa jadi pionir di lingkungannya. Ilmu dari sekolah lapang ini harus ditularkan ke masyarakat,” pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto