Jawa Pos Radar Ponorogo – Memasuki musim penghujan, kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi ditingkatkan.
Pemkab Ponorogo menggelar apel gabungan kesiapsiagaan bencana di Alun-alun, kemarin (5/11), diikuti TNI, Polri, BPBD, relawan, RAPI, dan berbagai instansi terkait.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko meminta seluruh elemen memperkuat mitigasi sejak dini.
Menurutnya, aktivitas manusia yang meningkat membuat keseimbangan alam terganggu.
“Ponorogo rawan banjir, longsor, angin kencang, dan kekeringan. Semua harus bersinergi menjaga keseimbangan alam,” ujar Kang Giri, sapaan bupati.
Ia menekankan pentingnya peran kecamatan hingga tingkat RT dalam upaya mitigasi.
Bentuk sederhana seperti kerja bakti membersihkan saluran dan memangkas pohon dinilai efektif mencegah bencana.
“Kerja bakti bukan sekadar kegiatan rutin, tapi bagian penting dari mitigasi. Kalau aliran air lancar, genangan bisa dicegah,” jelasnya.
Dalam apel tersebut, Kang Giri juga meninjau kesiapan peralatan, mulai mesin gergaji, perahu karet, hingga perlengkapan darurat lainnya.
“Semua harus tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Jangan sampai alat rusak saat dibutuhkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Ponorogo Masun menyebut, cuaca ekstrem mulai melanda wilayah setempat sejak awal November.
Hingga kini tercatat 14 kejadian bencana, terdiri atas delapan longsor dan enam angin kencang.
“Sebagian besar terjadi di Kecamatan Pulung, Ngebel, dan Ngrayun. Empat kejadian di antaranya terjadi dalam minggu pertama November,” terang Masun. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto