Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Refleksi Weton Sugiri Sancoko di Balik OTT KPK Bupati Ponorogo, Dipengaruhi Dewa Api dengan Godaan Kekuasaan

Deni Kurniawan • Sabtu, 8 November 2025 | 03:00 WIB

 

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang kena OTT KPK memiliki weton wuku Jawa dipengaruhi Batara Brama.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang kena OTT KPK memiliki weton wuku Jawa dipengaruhi Batara Brama.

Jawa Pos Radar Madiun – Setiap orang dalam budaya Jawa diyakini memiliki weton, wuku, dan mangsa yang mencerminkan perjalanan hidupnya.

Begitu pula Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, sosok asal Bumi Reog yang kini tengah jadi sorotan nasional usai terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada November 2025.

Di balik karier politik dan kepemimpinannya, pria kelahiran 26 Februari 1971 ini ternyata memiliki weton Jumat Kliwon dan lahir dalam Mangsa Kawolu, serta Wuku Tolu.

Kombinasi itu, menurut perhitungan Jawa, mencerminkan sosok pemimpin berjiwa kuat, idealis, dan punya kepekaan batin tinggi terhadap keadilan.

Makna Weton Jumat Kliwon

Dalam perhitungan kalender Jawa, Jumat Kliwon dianggap sebagai weton yang sarat aura kepemimpinan.

Orang yang lahir di weton ini dikenal sabar, bijaksana, dan memiliki daya pengaruh besar.

Gaya bicaranya lembut, namun tegas dan mampu menggugah kepercayaan orang lain.

Ciri ini sejalan dengan citra Sugiri selama menjabat Bupati Ponorogo, seorang komunikator ulung dengan pendekatan humanis melalui jargon Ok Pren yang lekat di masyarakat.

Namun, dalam filosofi Jawa, Jumat Kliwon juga punya sisi tantangan. Yakni, mudah terlena oleh rasa percaya diri dan loyalitas lingkungan sekitar.

Hal ini terkadang justru bisa menjerumuskan bila tak disikapi dengan kewaspadaan.

Makna Mangsa Kawolu: Kekuatan di Tengah Ujian

Menurut penanggalan Jawa, Mangsa Kawolu melambangkan fase Hajrah Jroning Kayun, “menyimpan luka di dalam hati”.

Orang yang lahir di masa ini dipercaya mengalami banyak pergulatan batin, namun tetap berjuang keras memperjuangkan nilai keadilan.

Mereka kuat secara emosi, tapi sering diuji oleh situasi yang menekan.

Mangsa Kawolu juga berada di bawah pengaruh Batara Brama, dewa api dan kejujuran.

Sosok yang lahir pada mangsa ini dikenal tegas, keras, tapi adil.

Dalam konteks Sugiri Sancoko, karakter tersebut tampak dari gayanya memimpin yang blak-blakan dan berani mengambil keputusan, termasuk proyek ambisius pembangunan Monumen Reog 126 meter di Gunung Gamping.

Namun, api Batara Brama juga bisa membakar bila tidak dikendalikan. Dalam filosofi Jawa, api melambangkan ujian moral dan godaan kekuasaan.

Makna Wuku Tolu: Sosok Perasa dan Pekerja Keras

Lahir dalam Wuku Tolu menandakan pribadi yang peka, pemurah, dan pekerja keras. Mereka menghargai nilai ketulusan dan keadilan, serta sering menghadapi tantangan besar sebelum mencapai kesuksesan.

Kombinasi Jumat Kliwon, Mangsa Kawolu, dan Wuku Tolu menjadikan Sugiri sosok yang kuat secara spiritual — pemimpin yang mudah disukai, tapi juga rawan menghadapi cobaan besar.

Refleksi Weton di Tengah Kasus OTT KPK

Kini, perjalanan hidup Sugiri Sancoko memasuki babak baru setelah KPK melakukan OTT terhadap dirinya terkait dugaan jual beli jabatan di Pemkab Ponorogo.

Dalam kacamata tradisi Jawa, ini bisa dianggap sebagai “ujian kawolu”, fase ketika api Brama menguji kemurnian niat dan kesabaran seorang pemimpin.

Apakah ujian ini akan menjadi titik balik spiritual dan politik bagi Kang Giri, atau justru menandai babak suram dalam kariernya, masih menjadi tanda tanya.

Namun, seperti filosofi Jawa menyebut, “sapa nandur bakal ngundhuh”. Yang artinya, siapa yang menanam, kelak akan menuai. (den)

Editor : Deni Kurniawan
#Bupati Ponorogo #weton #Sugiri Sancoko #mangsa #jawa #ott kpk #WUKU #Batara brama #Tradisi Jawa #ramalan