Jawa Pos Radar Ponorogo – Persoalan sampah di Ponorogo seolah tidak ada ujungnya.
Selain TPA Mrican yang overload, penanganan sampah di hulu juga bermasalah.
Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang dibangun menggunakan anggaran besar dinilai belum berfungsi optimal.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Pertamanan DLH Ponorogo Dian Puspita Mandasari mengatakan terdapat 22 TPS3R di kabupaten ini, empat di antaranya berada di kawasan kota.
Namun mayoritas operasionalnya dinilai jalan di tempat. Bahkan sebagian tidak lagi berfungsi.
’’Kami panggil semua pengelola TPS3R, mayoritas belum maksimal, hampir semua tidak berfungsi,’’ kata Manda, sapaan akrabnya.
DLH menyebut persoalan anggaran menjadi biang keladi macetnya TPS3R.
Pengelolaannya diserahkan ke kelompok masyarakat (pokmas), tetapi iuran pengelolaan justru minim karena warga enggan membuang sampah ke TPS3R.
’’Yang bayar tidak cukup, jadinya pengelolaan tidak jalan, khususnya di desa yang masyarakatnya memilih membakar langsung sampah mereka,’’ ungkapnya.
Kebiasaan warga membuang sampah ke TPS umum tanpa iuran turut memperparah masalah.
Sampah tidak terpilah dan akhirnya menumpuk di TPA Mrican.
’’Kami coba ajak perubahan ini, masyarakat minimal mau memilah sampah dulu, tidak dibuang sembarangan,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto