Jawa Pos Radar Ponorogo – Marjuki dan Jemirin, warga terdampak tanah longsor di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Pulung, kini bisa bernapas lega.
Pemkab Ponorogo telah merampungkan pembangunan hunian sementara (huntara) sehingga keduanya tak perlu lagi mengungsi.
Hunian sementara itu diserahkan langsung oleh Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita kemarin (30/12).
Suasana haru tak terelakkan saat kedua korban menerima bantuan tersebut.
Lisdyarita yang akrab disapa Bunda Rita menjelaskan, pembangunan huntara merupakan bagian dari penanganan pascabencana.
Selain itu, pemkab juga menyiapkan langkah mitigasi untuk menekan risiko bencana lanjutan melalui program reboisasi.
Bekerja sama dengan Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur, Pemkab Ponorogo menyiapkan 6.000 bibit tanaman.
Sebanyak 150 bibit ditanam di bekas longsor Desa Wagir Kidul dan 150 bibit lainnya di Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo.
“Harapannya, risiko bencana di kawasan rawan bisa diantisipasi,” ujar Bunda Rita.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun menambahkan, pembangunan huntara bagi Marjuki dan Jemirin didanai dari anggaran belanja tidak terduga (BTT) serta bantuan Baznas Ponorogo.
Kedua rumah korban sebelumnya rusak berat dan nyaris rata tanah akibat longsor yang terjadi pada 19 November lalu.
“Bantuan kami realisasikan sesuai instruksi Plt Bupati Lisdyarita agar hunian korban longsor segera ditangani,” ungkap Masun.
BPBD mencatat, tanah longsor menjadi bencana paling dominan selama musim penghujan Oktober–Desember.
Dari total 62 kejadian bencana, sebanyak 40 di antaranya merupakan longsor.
Dampaknya, 43 rumah warga rusak dengan rincian 17 unit rusak ringan, 16 rusak sedang, dan 10 rusak berat.
“Pemkab menyiapkan huntara agar warga terdampak tetap memiliki tempat tinggal yang layak. Ini bagian dari upaya memastikan kebutuhan dasar korban bencana terpenuhi,” pungkas Masun. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto