Jawa Pos Radar Madiun - Dunia pendidikan Islam berduka.
Salah satu cendekiawan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, berpulang pada Sabtu (3/1).
Putra keempat Trimurti pendiri Gontor, KH Imam Zarkasyi, itu wafat di Rumah Sakit Moewardi, Solo, Jawa Tengah.
Rektor Universitas Darussalam Gontor Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, almarhum dikenal luas sebagai pejuang pendidikan pesantren.
KH Amal memperjuangkan kesetaraan lulusan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Gontor dengan perguruan tinggi luar negeri, khususnya Mesir, termasuk membuka jalur kerja sama dan studi lanjut magister.
“Prof Amal juga sempat memimpin UNIDA Gontor sebagai rektor pada periode 2014–2020,” ujar Prof. Hamid.
Selain kiprah akademik, KH Amal berperan besar dalam perjuangan pengakuan negara terhadap sistem pendidikan pesantren di Indonesia.
Bersama para kiai dan praktisi pendidikan, ia menjadi salah satu penggagas lahirnya Undang-Undang Pesantren yang disahkan pada 2018.
Regulasi tersebut menjadi tonggak pengakuan negara terhadap pendidikan pesantren, baik salaf maupun khalaf.
“Beliau sangat bersemangat merealisasikan piagam wakaf bahwa Gontor harus menjadi universitas. Beliau aktif melobi banyak pihak, termasuk para menteri, agar UNIDA terus maju,” jelas Hamid.
Di bidang akademik, KH Amal memiliki rekam jejak kuat.
Ia meraih gelar doktor bidang Aqidah dan Pemikiran Islam dari Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2006.
Selain itu, ia juga menerima gelar doktor honoris causa bidang Dirasat Islam dari Fatoni University, Thailand, pada 2017.
“Beliau orang baik dan memiliki peranan besar dalam memperjuangkan pesantren di Indonesia hingga lahir UU Pesantren. Itu menjadi upaya agar pesantren dan lulusannya mendapatkan pengakuan negara,” pungkas Hamid. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto