Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

538 Hektare Sawah Tergenang, Petani Ponorogo Selatan Terancam Gagal Panen

Sugeng Dwi N. • Rabu, 7 Januari 2026 | 07:30 WIB
BANJIR TAHUNAN: Sawah di wilayah Ponorogo selatan terendam banjir awal tahun, menyebabkan puluhan hektare lahan pertanian dipastikan gagal panen. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO
BANJIR TAHUNAN: Sawah di wilayah Ponorogo selatan terendam banjir awal tahun, menyebabkan puluhan hektare lahan pertanian dipastikan gagal panen. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo – Banjir yang melanda wilayah Ponorogo selatan pada awal tahun 2026 berdampak serius terhadap sektor pertanian.

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan Ponorogo) mencatat total 538 hektare lahan pertanian tergenang banjir.

Dari luasan tersebut, 28 hektare dipastikan gagal panen atau puso.

Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dispertahankan Ponorogo, Suwarni, mengatakan banjir merendam area persawahan di sejumlah kecamatan.

Di antaranya Bungkal, Sambit, Balong, Slahung, Siman, Jetis, serta Kauman.

“Yang paling parah di Kecamatan Siman dan Jetis dengan total 28 hektare lahan puso,” kata Suwarni.

Perinciannya, lahan gagal panen meliputi 11 hektare di Desa Madusari, Kecamatan Siman; 7,2 hektare di Desa Josari; serta 9,8 hektare di Desa Winong, Kecamatan Jetis.

Sementara itu, lahan pertanian di Kecamatan Sambit, Kauman, dan Slahung sudah surut sehingga tidak ditemukan puso karena genangan air tidak berlangsung lama.

“Genangan di wilayah itu cepat surut, sehingga tanaman padi masih bisa tumbuh kembali,” jelasnya.

Potensi lahan puso masih berpeluang bertambah.

Hingga kini, Dispertahankan masih melakukan pendataan di Kecamatan Balong.

Sawah di Desa Bajang, Ngampel, hingga Karangan diperkirakan masuk kategori puso karena terendam banjir lebih dari tiga hari.

“Kerusakan tanaman lebih dari 75 persen kami kategorikan gagal panen. Pendataan masih terus kami lanjutkan,” imbuh Suwarni.

Terkait ganti rugi, Dispertahankan akan mengusulkan bantuan benih bagi petani yang sawahnya terdampak puso.

Meski tidak ada penggantian dalam bentuk uang, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban petani.

“Sebagian petani sudah mengikuti asuransi pertanian, sehingga bisa mendapatkan klaim. Untuk yang belum, kami upayakan bantuan benih,” ungkapnya.

Suwarni menambahkan, banjir yang terjadi merupakan bencana tahunan akibat hujan berintensitas tinggi dengan durasi lama di wilayah Ponorogo selatan.

Ke depan, pihaknya mendorong petani untuk mendaftarkan lahan ke asuransi sebagai langkah mitigasi risiko.

“Lahan yang hanya tergenang sebentar masih bisa diselamatkan, apalagi mayoritas umur padi sekitar satu bulan dan masih berpeluang bertunas lagi,” tandasnya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#petani terdampak banjir #pertanian ponorogo #lahan pertanian tergenang #banjir awal tahun #banjir ponorogo #sawah puso #ponorogo #gagal panen