Jawa Pos Radar Ponorogo – Intensitas bencana di Kabupaten Ponorogo sepanjang 2025 menurun signifikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat total 186 kejadian bencana, turun hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 yang mencapai 347 kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menjelaskan bahwa bencana tanah longsor masih menjadi jenis kejadian paling dominan.
Sepanjang 2025 tercatat 100 kejadian longsor. Selain itu, terdapat 47 kejadian banjir, 29 kasus cuaca ekstrem, tujuh kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dua kasus kekeringan, serta satu kejadian kebakaran bangunan dan permukiman.
“Penurunan paling signifikan terjadi pada karhutla dan kekeringan, yang turun hingga 90 persen dibandingkan 2024,” ujar Masun.
Menurutnya, penurunan jumlah bencana tersebut sangat dipengaruhi kondisi iklim sepanjang tahun.
Musim kemarau 2025 dinilai tidak seekstrem tahun sebelumnya.
Ketersediaan sumber air relatif lebih terjaga karena kemarau basah, sehingga risiko kekeringan menurun drastis.
“El Nino relatif rendah dan La Nina hanya ringan, sehingga tidak memicu kekeringan ekstrem,” jelasnya.
Selain faktor iklim, berkurangnya kemunculan bibit siklon tropis juga berperan besar.
Pada 2024, wilayah Jawa Timur, terutama kawasan pantai selatan, kerap terdampak bibit siklon yang memicu hujan lebat disertai petir dan cuaca ekstrem.
Sementara pada 2025, bibit siklon lebih banyak muncul di wilayah utara atau timur dan jarang berdampak langsung ke Jawa Timur.
Masun menambahkan, upaya modifikasi cuaca yang dilakukan BPBD turut membantu menekan potensi bencana hidrometeorologi.
Meski tren kejadian menurun, masyarakat tetap diminta waspada.
“Potensi longsor dan banjir masih ada. Seperti longsor di Kecamatan Pulung serta wilayah rawan banjir di Balong, Bungkal, Jambon, dan Kauman,” tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto