Jawa Pos Radar Ponorogo – Proses pembangunan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) sejatinya baru setengah jalan.
Namun, objek yang berdiri di kawasan gunung gamping Desa/Kecamatan Sampung itu justru menjelma destinasi wisata baru yang menyedot perhatian publik.
Tahap pertama pembangunan MRMP berupa pemasangan panel dadak merak setinggi 126 meter telah rampung.
Sejak itu, monumen raksasa tersebut viral di media sosial.
Ratusan hingga ribuan warga datang setiap hari untuk menyaksikan langsung ikon baru Ponorogo tersebut.
Ketua Paguyuban Masmorogo, Wijang Susanto, mengatakan lonjakan kunjungan mulai terasa sekitar tiga bulan terakhir.
Tepatnya sejak akhir November 2025. Padahal, MRMP telah diresmikan pada Agustus lalu, namun sempat sepi pengunjung.
“Awalnya sepi. Baru tiga bulan terakhir ini ramai setelah kami mengadakan live musik dan beberapa kegiatan. Warga juga mulai berjualan,” kata Wijang.
Menurutnya, kunjungan paling tinggi terjadi saat akhir pekan dan libur panjang Natal dan Tahun Baru.
Tidak hanya warga lokal, pengunjung juga datang dari luar daerah seperti Ngawi, Magetan, Pacitan, Surabaya hingga Malang.
“Waktu tahun baru kemarin, sekitar 35 kereta kelinci parkir di sekitar monumen, ditambah bus-bus. Jalan raya macet sampai lima kilometer,” ungkapnya.
Ramainya wisatawan berdampak langsung pada ekonomi warga sekitar.
Saat ini, lebih dari 50 warga lokal membuka lapak UMKM di kawasan MRMP.
Jumlah tersebut bisa meningkat dua kali lipat saat akhir pekan atau event tertentu.
“Pedagang dari paguyuban diprioritaskan warga lokal. Kalau dari luar daerah boleh berjualan, tapi hanya saat event seperti pasar malam,” jelasnya.
Kebijakan tersebut diberlakukan bukan tanpa alasan.
Wijang mengungkapkan, sebelumnya sempat ditemukan pedagang dari luar daerah yang mematok harga terlalu mahal sehingga berpotensi merusak citra pedagang lokal.
“Banyak warga yang sebelumnya menganggur sekarang bisa berjualan. Kalau sampai dicap mahal, yang rugi warga sini,” tegasnya.
Terkait kelanjutan pembangunan MRMP, paguyuban menyatakan dukungan penuh.
Bahkan, para pelaku UMKM siap menghentikan aktivitas berjualan sewaktu-waktu jika proyek kembali dilanjutkan.
“Selama tiga tahun sempat vakum, sekarang ada MRMP jadi ramai. Dampak ekonominya sudah terasa, masyarakat tentu senang,” pungkas Wijang. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto