Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Dilarang Beroperasi, 71 Sopir Kereta Kelinci Ponorogo Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Sugeng Dwi N. • Senin, 19 Januari 2026 | 05:00 WIB
HEMAT: Kereta kelinci menjadi pilihan warga dan rombongan sekolah karena dinilai nyaman, anti mabuk, dan ekonomis untuk wisata. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO
HEMAT: Kereta kelinci menjadi pilihan warga dan rombongan sekolah karena dinilai nyaman, anti mabuk, dan ekonomis untuk wisata. SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo – Penghentian operasional kereta kelinci membuat pelaku usaha jasa transportasi wisata di Ponorogo limbung.

Mengandalkan pendapatan dari sewa kereta kelinci, larangan tersebut dikhawatirkan mengancam keberlangsungan ekonomi keluarga.

Data mencatat, sedikitnya terdapat 71 unit kereta kelinci yang beroperasi di Ponorogo.

Suyanto, salah satu pemilik kereta kelinci, mengungkapkan bahwa kendaraan wisata tersebut tidak beroperasi setiap hari.

Kereta kelinci biasanya disewa pada momen tertentu, terutama akhir pekan atau kegiatan khusus seperti wisata sekolah, hajatan, hingga kunjungan ke Monumen Reog dan Museum Peradaban.

“Tidak setiap hari kami jalan. Kami hanya beroperasi saat ada sewa, bukan keliling di jalanan. Kalau dilarang total, bagaimana solusi untuk kami?” ujar Suyanto.

Dia menjelaskan, tarif sewa kereta kelinci bersifat fleksibel, tergantung jarak tempuh dan jumlah penumpang.

Biaya sewa berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah sekali perjalanan.

Karena itu, dia berharap pemerintah daerah mengkaji ulang kebijakan penghentian operasional tersebut.

“Harapannya bisa tetap jalan. Kalau dibatasi total jelas merugikan, karena ini sumber penghasilan kami,” katanya.

Keluhan tak hanya datang dari pelaku usaha. Yuliana, penumpang kereta kelinci, mengaku lebih memilih moda tersebut dibanding bus.

Selain dinilai nyaman, kereta kelinci dianggap lebih ramah bagi rombongan dan minim risiko mabuk perjalanan, terutama untuk anak-anak.

“Nggak mabuk kalau naik kereta kelinci. Lebih hemat juga kalau bepergian ramai-ramai bareng RT atau komunitas,” ujarnya saat ditemui di pelataran MRMP, kemarin (18/1).

Menurut Yuliana, kebijakan penghentian operasional sebaiknya dikaji ulang dengan skema pembatasan, bukan pelarangan total.

Misalnya, pengaturan trayek atau waktu operasional agar tidak tumpang tindih dengan angkutan umum lain seperti bus medium.

“Sekarang banyak yang senang pakai kereta kelinci. Enak buat jalan-jalan tanpa harus repot cari bus,” pungkasnya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#wisata keluarga #Larangan Kereta Kelinci #sopir kereta kelinci #mrmp ponorogo #transportasi wisata Ponorogo #ponorogo #kereta kelinci Ponorogo