Jawa Pos Radar Madiun - Kisah memilukan datang dari Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo.
Sukirno, seorang pria berusia 60 tahun, harus menghabiskan sepertiga hidupnya dalam kesunyian.
Selama 20 tahun terakhir, ia hidup terpasung di balik jeruji besi berukuran sempit.
Penderitaan panjang Sukirno kini menemui titik terang.
Jajaran Polsek Sawoo bersama instansi terkait berencana membebaskan Sukirno untuk mendapatkan perawatan medis dan rehabilitasi yang layak.
Dikurung Sejak 2005 di Ruang 1x1 Meter
Kapolsek Sawoo, AKP Tutut Ariyanto, mengungkapkan bahwa pemasungan terhadap Sukirno telah berlangsung sejak tahun 2005.
Kondisi tempat tinggalnya sangat memprihatinkan, hanya berupa ruang berukuran sekitar 160 x 60 sentimeter di samping rumah utama.
"Meski kondisi fisiknya terbatas karena lama dipasung, yang bersangkutan masih bisa diajak komunikasi, walaupun tidak bisa lama," ujar AKP Tutut Ariyanto.
Langkah pemasungan ini terpaksa diambil keluarga bukan tanpa alasan. Keluarga dan warga sekitar merasa ketakutan lantaran emosi Sukirno yang kerap tak terkendali.
"Alasan keamanan menjadi faktor utama. Dulu sering mengamuk, bahkan pernah membawa senjata tajam yang membahayakan warga. Menurut keterangan keluarga, kondisi ini bermula saat ia berusia 40-an tahun, diduga akibat mendalami ilmu tertentu," jelas Kapolsek.
Gandeng Ipda Purnomo untuk Rehabilitasi
Polri tidak hanya hadir untuk penegakan hukum, namun juga misi kemanusiaan.
Polsek Sawoo merencanakan pembebasan Sukirno dengan menggandeng Ipda Purnomo, anggota polisi yang dikenal luas aktif menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Rencananya, Sukirno akan dievakuasi ke Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Timur, untuk selanjutnya dirawat secara intensif di Pondok Rehabilitasi Mental Yayasan Berkah Bersinar Abadi di Lamongan.
Langkah ini telah mendapatkan persetujuan penuh dari pihak keluarga.
Baca Juga: Jubir KPK Ungkap Hasil Penggeledahan OPD Pemkot Madiun usai OTT Wali Kota Nonaktif Maidi
Keluarga Berharap Perawatan Manusiawi
Dian, keponakan Sukirno, mengaku lega dengan adanya bantuan ini.
Ia menuturkan bahwa keluarga sebenarnya tidak tega, namun upaya pengobatan medis maupun non-medis yang pernah dilakukan sebelumnya selalu nihil hasil.
"Kami sudah berupaya mengobati kemana-mana, tapi hasilnya tetap sama. Kadang masih mengancam," ungkap Dian.
Ia berharap langkah rehabilitasi ini dapat menghentikan penderitaan pamannya sekaligus memberikan kesempatan bagi Sukirno untuk mendapatkan perawatan yang lebih manusiawi dan bermartabat di sisa usianya. (gen/kid)
Editor : Mizan Ahsani