Jawa Pos Radar Ponorogo – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) menjadi problem serius di daerah.
Pemkab Ponorogo memberi atensi khusus pada dua indikator utama derajat kesehatan masyarakat tersebut.
Hasil setahun belakangan, kasus AKI dan AKB turun signifikan.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan komitmen pemkab dalam menekan AKI dan AKB, serta prevalensi stunting.
Menurutnya, pendampingan harus dimulai sejak pra kehamilan hingga masa persalinan.
’’Program pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah pusat harus dimanfaatkan maksimal. Pemenuhan gizi ibu hamil dan pendampingan keluarga juga wajib diperkuat agar stunting, AKB, dan AKI bisa ditekan,’’ kata Bunda Rita, sapaan plt bupati.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti membeberkan, AKI dan AKB saling terkait.
Kasus AKI tahun ini turun menjadi lima kasus, sementara 2024 lalu tercatat 11 kasus.
Penurunan tersebut berdampak terhadap AKB.
Pada 2025, AKB turun menjadi 96 kasus dari tahun sebelumnya 121 kasus.
’’Masih banyak bayi yang tidak terselamatkan. Ini yang terus kami evaluasi,’’ ungkap Dyah usai membuka Rapat Koordinasi Fasilitas Kesehatan (Fasyankes) 2026, Jumat (13/2).
Dyah menambahkan, mayoritas kematian bayi terjadi pada fase neonatal atau usia 0–7 hari setelah lahir.
Masa tersebut menjadi periode paling krusial karena sangat dipengaruhi kondisi kesehatan ibu selama kehamilan.
Faktor sosial, ekonomi, hingga lingkungan turut mempengaruhi risiko keselamatan bayi.
Mirisnya, dua bulan terakhir tercatat 12 kasus kematian bayi di Ponorogo.
’’Karena itu, Dinkes memperkuat skrining kehamilan berisiko tinggi, peningkatan kualitas layanan persalinan, hingga pemantauan intensif bayi baru lahir,’’ tegasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto