Jawa Pos Radar Ponorogo – Lonjakan harga jelang Ramadan menjadi fase krusial perekonomian daerah.
Untuk mengantisipasi gejolak pasar, Pemkab Ponorogo menggelar rapat high level meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kemarin (13/2).
Strategi pengamanan stok hingga operasi pasar bakal disiapkan.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, periode Ramadan hingga Lebaran merupakan titik rawan inflasi.
Lonjakan konsumsi rumah tangga, perubahan distribusi barang, serta potensi gangguan pasokan komoditas strategis berpotensi memicu kenaikan harga.
“Fase ini krusial bagi perekonomian daerah. Karena itu, langkah pengendalian harus dilakukan lebih awal dan terukur,” kata Bunda Rita, sapaan plt bupati.
Bunda Rita merekomendasikan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas harga.
Mulai identifikasi komoditas yang rentan bergejolak, penguatan kerja sama antar daerah, hingga membuka opsi intervensi pasar.
Pemkab bahkan telah menjalin kerja sama dengan Pemkab Malang guna mengamankan pasokan cabai.
“Jangan sampai kenaikan harga nanti membuat ekonomi masyarakat melemah,” tegasnya.
Sekretaris Harian TPID Ponorogo Harjono menambahkan, sejumlah komoditas diwaspadai naik.
Antara lain cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan daging sapi.
Permintaan meningkat saat Ramadan berpotensi mendorong kenaikan harga.
Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), kondisi Ponorogo masih relatif terkendali.
Pada pekan pertama Januari, IPH tercatat 0,56.
Angka itu turun menjadi 0,50 pada pekan kedua dan ketiga, dan naik kembali 0,76 di pekan keempat lalu.
“Kami tetap waspada. Kenaikan IPH lebih dipicu terbatasnya pasokan jagung yang berdampak pada harga daging ayam dan telur,” jelas Harjono. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto